Bebas Karantina, Jumlah Wisman Diperkirakan Meningkat Bulan Depan

Tun MZ

Wisatawan menikmati sunset di Pantai Canggu di tengah pandemi COVID-19 di Bali, 2 Desember 2021. (Foto: REUTERS/Johannes P. Christo)
Wisatawan menikmati sunset di Pantai Canggu di tengah pandemi COVID-19 di Bali, 2 Desember 2021. (Foto: REUTERS/Johannes P. Christo)

Jakarta, helloborneo.com – Menyusul keputusan pemerintah yang menetapkan kebijakan bebas karantina terhadap pengunjung di beberapa destinasi wisata, sejumlah pelaku bisnis di sektor pariwisata menyambut baik keputusan tersebut.

Pandemi COVID-19 membuat pemerintah, tidak hanya di Indonesia namun hampir di seluruh dunia, memberlakukan kebijakan karantina bagi para pendatang yang masuk ke wilayahnya. Para pelaku bisnis di sektor pariwisata mengakui bahwa kebijakan ini tentu berakibat pada menurunnya kunjungan jumlah wisatawan asal mancanegara (wisman) di wilayah mereka.

I Nyoman Murjana, General Manager Taman Nusa, sebuah tempat wisata di Gianyar, Bali, menyebut penerapan kebijakan bebas karantina yang lebih cepat akan lebih baik bagi sektor pariwisata dalam negeri. Pasalnya, tidak mungkin wisman akan langsung datang ke Indonesia segera setelah kebijakan bebas karantina diumumkan, jelasnya. 

“Kami berharap yang paling dekat satu bulan ini sudah terasa, karena pada saat mereka merencanakan, mereka sudah menyiapkan waktunya, menyiapkan untuk anggaran mereka. Kira-kira satu bulan sudah memungkinkan,” ujar Nyoman.

Bali, Batam dan Bintan memang dipilih dalam uji coba penerapan bebas karantina bagi wisman mulai Senin (7/3). Dalam hitungan Nyoman, dengan kebijakan ini proses kedatangan wisman bisa terlihat setidaknya pada bulan April. Selanjutnya jika kondisi terus membaik, angka kunjungan akan naik ke bulan-bulan berikutnya, seiring kepercayaan wisatawan sendiri. 

“Betul-betul kita harapkan memang ada kenaikan yang sangat signifikan di bulan Juli. Karena kita tahu, Juli ini high season. Ini yang sebenarnya kita tunggu. Karena itu, harus dimulai segera,” tambahnya. 

Dengan diberlakukan kebijakan bebas karantina ini, para pengelola tempat wisata bisa segera mempersiapkan destinasinya, agar tidak mengecewakan setelah sekitar dua tahun absen dikunjungi oleh wisatawan asing.

Meski sebelumnya pemerintah telah membuka penerbangan internasional pada 4 Februari 2022 lalu, namun menurut Nyoman tidak ada perubahan yang cukup berarti dari sisi kunjungan wisatawan. Kewajiban karantina disinyalir masih menjadi salah satu faktor yang mengurungkan niat wisatawan mancanegara untuk mengunjungi Bali. 

“Karantina dan hal-hal lain yang harus dipenuhi turis yang datang, benar-benar memberatkan mereka. Satu, memang berat untuk biayanya, yang kedua juga waktu,” kata Nyoman. 

Dengan kewajiban karantina yang dulu ditetapkan sepuluh hari, kemudian turun menjadi tujuh hari, ujar Nyoman, para wisman yang berkunjung ke Bali justru akan lebih banyak menghabiskan waktu di karantina dibanding untuk berwisata.

Malaysia Dinilai Menjanjikan 

Selain Bali, Batam dan Bintan menjadi penerima jatah sebagai destinasi yang memberlakukan uji coba bebas karantina. Kedua wilayah ini sebelumnya juga menikmati skema travel bubble dengan Singapura, yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Namun, menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) Tanjungpinang-Bintan, Sapril Sembiring, wisatawan domestik tetap menjadi prioritas mereka dalam waktu dekat. 

“Kalau kita (arahnya) lebih memperkuat pasar domestik untuk menghidupkan para pelaku UMKM dan juga pekerja pariwisata yang ada. Dan saya pikir ini adalah modal besar kita, karena memang pasar domestik kita juga berpotensi untuk lebih dioptimalkan. Sambil menunggu ini (wisatawan asing.red) nanti akan lancar lagi,” ujarnya.

Kebijakan apapun yang diterapkan pemerintah terkait pariwisata, akan berhadapan dengan kebijakan negara asal wisatawan. Dalam kebijakan travel bubble misalnya, kata Sapril, Indonesia tidak bisa mempengaruhi aturan di Singapura. 

Selain Singapura, Sapril mengusulkan pemerintah juga melirik wisatawan Malaysia untuk pasar Batam, Bintan, Tanjungpinang dan sekitarnya. Selama ini, fokus kementerian pariwisata nampaknya hanya terarah ke Singapura, ujar Sapril.

“Karena Malaysia lebih punya kultur yang sama dengan kita, dan pendekatan humanis yang lebih kurang mirip dengan Indonesia. Jadi saya pikir potensi besar kita juga ada di Malaysia sebenarnya,” tambah Sapril. 

Beberapa keunggulan pasar Malaysia kata Sapril adalah akses yang mudah, karena ada ferry dari Batam dan Tanjungpinang ke Stulang Laut di Johor, Malaysia. Selain itu, unsur kedekatan etnis juga akan berpengaruh, termasuk untuk urusan lidah. 

Kondisi Sektor Kesehatan Mendukung

Dalam keterangan pers mingguan pada Senin (7/3), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno memastikan Bali, Batam dan Bintan sebagai destinasi uji coba bebas karantina. Awalnya, rencana itu akan diterapkan pada 14 Maret, tetapi kemudian dimajukan dengan berbagai pertimbangan. 

“Keputusannya untuk dimajukan, karena memang data-data secara medis, masukan dari para ahli memberikan ruang untuk kita memajukan uji coba ini. Dan uji coba ini rencananya kami akan evaluasi per minggu,”papar Sandi. 

Jika dalam beberapa minggu ke depan uji coba ini menunjukkan hasil baik, lanjut Sandi, kebijakan bebas karantina akan diterapkan di wilayah lain.

Keputusan ini tidak lepas dari kesadaran, bahwa Indonesia sudah memasuki era baru. Persiapan menuju transisi, tambah Sandi, disiapkan di setiap lini. 

“Saya menyebutnya adalah persiapan memasuki era ekonomi baru. Dimana kita akan menerapkan protokol kesehatan tetap secara ketat dan disiplin yang terintegrasi dengan aplikasi PeduliLindungi,” ujarnya. 

Pemerintah berharap, kebijakan bebas karantina dan fasilitas visa on arrival bisa meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.