Nyaris Punah, Kantor Bahasa Kaltim Lakukan Revitalisasi Sastra Lisan Sempuri dan Betore di Paser

Sophia A Razak

Revitalisasi sastra lisan Sempuri dan Betore di Paser. (Ist)
Revitalisasi sastra lisan Sempuri dan Betore di Paser. (Ist)

Paser, helloborneo.com – Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur kembali lakukan revitalisasi sastra untuk wilayah Paser dan sekitarnya. Upaya pelestarian tradisi lisan tersebut bertajuk Partisipan Pelindung Sastra Lisan Sempuri dan Betore.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (4/7) lalu, di Aula SMP 2 Tana Grogot merangkul Dinas Pendidikan Kabupaten Paser sebagai mitra dan dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser, M. Yunus Syam.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Halimi Hadibrata mengatakan Suku Paser yang tersebar di Kabupaten Paser, memiliki beragam tradisi lisan warisan leluhur yang memiliki banyak nilai-nilai luhur budaya nenek moyang. Saat ini, pertunjukan tradisi lisan sangat jarang ditemui dalam kehidupan masyarakat Paser. Jumlah penuturnya pun semakin berkurang dan sebagian besar didominasi oleh masyarakat berusia 50 tahun ke atas. Apabila keadaan tersebut berlangsung terus-menerus, keberadaan tradis lisan terancam punah.

“Salah satu upaya pelestarian kedua tradisi lisan tersebut berupa kegiatan yang bertajuk Partisipan Pelindungan Sastra, Revitalisasi Sastra Lisan Sempuri dan Betore di Kabupaten Paser. Upaya tersebut bagian dari rangkaian kegiatan Pelindungan Sastra yang menjadi salah satu tugas pokok Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang merupakan induk dari Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Dengan mengemban amanat PP Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur berupaya melakukan usaha pelestarian, salah satunya di Kabupaten Paser,” terang Halimi.

Revitalisasi sastra tersebut melibatkan siswa menengah pertama sebagai partisipan tradisi lisan. Selain itu, pelaksanaan kegiatan tersebut juga melibatkan beberapa tokoh dan pengampu tradisi lisan yang ada di Kabupaten Paser.

Halimi menegaskan upaya pelindungan sastra daerah itu paling efektif melalui pendidikan. Hal itu sejalan dengan pengembangan nomenklatur di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser, yaitu akan menambah bidang kurikulum muatan lokal.

Diketahui sejak Maret 2022, Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser untuk berdiskusi tentang guru atau pelatih tradisi lisan di Kabupaten Paser.

Rangkaian kegiatan yang kedua adalah pelatihan tradisi lisan sempuri dan betore bagi siswa menengah pertama oleh pelatih, Aji Jamil Lempesu dan Ibu Binru. Rangkaian berikutnya adalah pementasan hasil latihan siswa. Peserta yang dilatih sebanyak 13 orang yang terbagi menjadi 6 orang membawakan sempuri dan 7 orang membawakan betore dengan tema betabe (permisi), bekampun (memohon maaf), dan nasihat. Sementara itu, sempuri yang dibawakan siswa partisipan merupakan karangan mereka sendiri yang bercerita tentang sifat-sifat manusia dan cerita binatang.

Tentang Tradisi Sempuri dan Betore

Dua di antara banyak tradisi lisan yang dimiliki masyarakat Paser adalah sempuri dan betore. Sempuri adalah cerita atau dongeng yang mengandung pesan, nasihat, dan kearifan lokal budaya yang dituturkan kepada generasi muda.

Aji Jamil Lempesu, mengatakan bahwa sempuri adalah sarana pendidikan bagi generasi muda, sehingga isi sempuri mengandung pesan untuk bekal kehidupan.

“Saat ini, sempuri tidak pernah lagi didongengkan dan perhatian untuk upaya pelestariannya belum pernah dilakuan,” paparnya.

Ia juga berharap nilai luhur yang terkandung dalam sempuri dapat tersampaikan kepada generasi muda saat ini.

Sementara itu, betore adalah sajak yang pada masa dahulu disampaikan dengan cara dilagukan. Betore merupakan hiburan masyarakat dahulu dengan tema-tema yang berbeda.

Ditambahkan oleh Binru dari Paser Adang, seorang pelantun betore, betore dapat juga dinyayikan pada saat memanen padi dengan cara bersahut-sahutan antara remaja laki-laki dan perempuan, dilagukan sebagai nina bobo, sebagai nasihat adab dalam bermasyarakat. (sop/)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.