Hari Batik Nasional, Legislator PPU Ajak Masyarakat Tak Malu Kenakan Batik

ES Yulianto

Anggota komisi II DPRD Kabupaten PPU, Syarifuddin HR. (ESY)
Anggota komisi II DPRD Kabupaten PPU, Syarifuddin HR. (ESY)

Penajam, helloborneo.com – Syarifuddin HR, Legislator Partai Demokrat yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengajak generasi muda untuk tidak malu mengenakan batik.

Momentum Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2022. Namun semaraknya baru bisa dirayakan pada hari kerja DPRD Kabupaten PPU, Senin 3 Oktober 2022.

Anggota komisi II DPRD Kabupaten PPU, Syarifuddin HR ini mengatakan bahwa batik menjadi indentitas secara nasional.

Pekerja penyandang difabel sedang membatik motif motogp Mandalika di Batik Toeli Laweyan Solo. (Foto: VOA/Yudha Satriawan)
Pekerja penyandang difabel sedang membatik motif motogp Mandalika di Batik Toeli Laweyan Solo. (Foto: VOA/Yudha Satriawan)

“Hari Batik Nasional artinya batik ini pakaian identitas secara nasional memang harus, kalau pada saat hari nasional harus memang memakai batik,” kata Syarifuddin HR,

Batik juga dianggap oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten PPU ini sebagai icon yang harus dicintai. Ketika diwawancarai Syarifuddin HR pun mengaku sedang menggunakan batik khas Kalimantan dengan motif sasirangan.

“Kita harus mencintai icon kita nasional kita baju batik. Seperti saya kan pakai batik khas Kalimantan, motif sasirangan,” ujarnya.

Saat ini anak muda sebagai generasi penerus bangsa pun turut harus mengaungkan batik. Dengan berbagai motif dan desain yang kekinian, anak muda tak perlu malu dengan menggunakan batik.

Duta Wisata Kabupaten Penajam Paser Utara, Yana Risqi (Dok)

“Jangan malu dengan budaya kita nasional kita. Tak perlu malu, banyak ko batik yang fashionable untuk anak muda,” jelasnya.

Saat ini desain batik dianggap lebih fleksibel. Sasaran untuk batik kini telah bisa menyesuaikan pasar, baik untuk kalangan muda ataupun kalangan orang tua.

“Sekarang lebih trendi tidak seperti batik-batik dulu. Batik sekarang lebih menyesuaikan selera muda ada, selera orang tua ada,” ungkapnya.

Syarifuddin HR berharap masyarakat kaum muda dan tua bangga akan batik Indonesia. Pasalnya batik-batik Indonesia telah mendapatkan pengakuan secara mendunia. Bila malu dipakai maka batik itu akan habis memudar dibawa musim.

“Batik juga mendunia sudah, orang luar aja tidak malu pakai batik, masa kita yang punya budaya malu.
Nanti bisa hilang sendiri kalau menanggap tidak fashionable,” pungkasnya. (adv/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses