Cita-cita PPU Capai Kabupaten Layak Anak Butuh Komitmen Bersama

ES Yulianto

Pembentukan Gugus Tugas KLA masa bhakti tahun 2022 – 2027 dan evaluasi capaian setiap tahun. (Ist)
Pembentukan Gugus Tugas KLA masa bhakti tahun 2022 – 2027 dan evaluasi capaian setiap tahun. (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Kinerja Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak (KLA) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) disadari masih banyak kekurangan. Padahal 4 penghargaan KLA tingkat Pratama selalu diterima oleh Kabupaten dengan julukan Benuo Taka ini secara berturut-turut.

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten PPU menggelar pembentukan Gugus Tugas KLA masa bhakti tahun 2022 – 2027 dan evaluasi capaian setiap tahun.

Menurut Kepada Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Kabupaten PPU Nur Khaidah bahwa saat ini masih banyak kekurangan.

“Semoga ini meningkat menjadi madya, capaian hasil kekurangan intinya memeng masih banyak kekurangan untuk sarana, prasana, sumber daya manusia dan dukungan anggarannya,” kata Nur Khaidah.

Bagi Nur Khaidah butuh komitmen bersama untuk menuju KLA. Tidak hanya menjadi beban DP3AP2KB Kabupaten PPU melainkan seluruh lapisan mulai dari kepala daerah hingga kalangan masyarakat di akar rumput.

“Paling utama komitmen kepala daerah, opda instansi vertikal, dunia usaha, media massa, forum anak dan semua lapisan masyarakat,” jelasnya

Dalam proses mencapai KLA, pemerintah harus memiliki pembangunan yang terintegritas terhadap kebutuhan hak anak. Hal ini dianggap perlu komitmen bersama hingga dunia usaha di Kabupaten PPU.

“Mempunyai sistem pembangunan hak anak melalui pengintegrasian komitmen pemerintah masyarakat dunia usaha yang berkelanjutan melalui program dan kegiatan untuk memnuhi hak anak,” tambahnya.

Turut hadir, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten PPU Satriyani Sirajuddin mengatakan pembentukan Gugus Tugas harus ditindaklanjuti. Dirinya meminta hal itu bukan hanya diatas kertas.

“Harus kita tindaklanjuti oleh semua pihak yang tergabung dalam gugus tugas KLA, bukan hanya sekedar laporan diatas kertas. Harus betul-betul turun kelapangan mengecek kekurangan,”

Satriyani Sirajuddin memandang masih ada kekurangan di lapangan seperti anak yang bekerja di jam sekolah demi membantu orang tua hingg masih ada yang putus sekolah.

Dirinya memiliki solusi untuk ada area ramah anak. Dalam area tersebut mengakomodir anak yang membantu orang tua di usia sekolah hingga anak putus sekolah.

“Kerja membantu orang tua jangan sampai di jam sekolah. Tempat edukasi untuk anak-anak bisa menyalurkan bakat, hobi disitu, kita isi juga pengajian. Untuk anak putus sekolah nanti kita ada jam khusus untuk mereka bisa belajar,” pungkasnya. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.