Pakar Kesehatan Ingatkan Pentingnya Olahraga dan Kurangi Konsumsi Gula

Ilustrasi - Seorang penderita diabetes tengah memeriksa kadar gula dengan glukometer di Narsingdi, Bangladesh.
Ilustrasi – Seorang penderita diabetes tengah memeriksa kadar gula dengan glukometer di Narsingdi, Bangladesh.

Palu, helloborneo.com – Indonesia adalah negara dengan penderita diabetes melitus tertinggi kelima di dunia. Hal ini disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Eva Susanti, dalam diskusi di Hari Diabetes Sedunia, 14 November lalu.

Di tahun 2021, ada sekitar 19,5 juta warga atau berarti 10,6 persen dari total populasi, yang menderita diabetes. Kementerian Kesehatan memperkirakan pada tahun 2045 jumlah penderita diabetes di Indonesia dapat mencapai 28,6 juta orang.

Diabetes ikut menyumbang angka kematian hingga 6,2 persen pada tahun 2019 lalu.

Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah.

Menurut Eva, tingginya konsumsi gula jadi faktor risiko diabetes. Di Indonesia rata-rata 5,7 persen penduduk mengkonsumsi gula di atas 50 gram per hari, atau di atas rekomendasi batasan konsumsi gula kurang dari 52,5 gram setara dengan empat sendok makan per hari.

“Produk konsumsi tertinggi itu ada pada teh kemasan sekitar 13,26 persen, kemudian disusul kental manis ada 5,2 persen dan jus buah serbuk ada 4,82 persen,” papar Eva Susanti dalam Press Briefing Hari Diabetes Sedunia Tahun 2022, bertema Cegah dan Kendalikan Diabetes untuk Masa Depanmu”.

Kementerian Kesehatan, menurut Eva, telah menyusun program-program prioritas pengendalian diabetes melitus, antara lain program edukasi yang menyasar 104,5 juta orang (50 persen) usia produktif dan lansia di tingkat Posyandu Prima dan Posyandu.

Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dilakukan program deteksi dini dan tata laksana dengan sasaran 94 juta orang (50 persen) usia produktif dan lansia. Sedangkan untuk penanganan komplikasi di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) menargetkan 36 persen kasus terkendali atau 7,9 juta orang.

Rutin Olahraga Cegah Diabetes

Sony Wibisono dari Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) menyarankan setiap orang untuk rutin berolahraga guna mencegah obesitas. Obesitas adalah salah satu faktor resiko terjadinya diabetes. Masyarakat juga perlu membiasakan diri untuk memeriksa kadar glukosa yang tertera pada kemasan produk makanan.

“Membuat suatu edukasi untuk masyarakat dalam hal kalau setiap membeli makanan kemasan harus tahu kandungan kalorinya terutama glukosanya yang tadi disebutkan kandungan glukosanya atau kandungan gulanya, sehingga bisa mengetahui pada kemasan-kemasan tersebut untuk menghindari semakin meningkatnya obesitas,” kata Sony Wibisono.

Deteksi Dini Diabetes pada Anak

Tak hanya pada orang dewasa, diabetes kini juga banyak diderita anak-anak. Profesor Aman B. Pulungan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan sangat penting untuk menemukan dan mendiagnosis penderita diabetes melitus tipe-1 pada anak yang bergantung pada pemenuhan insulin seumur hidupnya. Ini dikarenakan diagnosis diabetes pada anak sering kali terlambat. Pasien sering datang ketika sudah dalam kondisi berat seperti tidak sadarkan diri, sehingga meningkatkan angka mortalitas.

“Jadi rata-rata itu peningkatan pasien diabetes kita ini sekitar tujuh kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir dan 70 persen pasien diabetes anak ini terdiagnosisnya itu pada saat dengan koma diabetes atau pada saat KAD. Kenapa? karena tidak ada awareness orang, jadi dalam keadaan berat barulah dia ke rumah sakit,” kata Aman B. Pulungan.

KAD atau ketoasidosis diabetikum, menurut situs halodoc.com, adalah komplikasi diabetes yang terjadi ketika tubuh memproduksi asam darah tingkat tinggi yang disebut Keaton. Kondisi ini berkembang ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin.

“Jadi rata-rata itu peningkatan pasien diabetes kita ini sekitar tujuh kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir dan 70 persen pasien diabetes anak ini terdiagnosisnya itu pada saat dengan koma diabetes atau pada saat KAD. Kenapa? karena tidak ada awareness orang, jadi dalam keadaan berat barulah dia ke rumah sakit,” kata Aman B. Pulungan.

KAD atau ketoasidosis diabetikum, menurut situs halodoc.com, adalah komplikasi diabetes yang terjadi ketika tubuh memproduksi asam darah tingkat tinggi yang disebut Keaton. Kondisi ini berkembang ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.