Amerika Serikat Alami Kelangkaan Sinterklas

Sinterklas mengendarai kendaraan hias di Parade Hari Thanksgiving Macy di New York, 24 November 2022. (Foto oleh Charles Sykes/Invision/AP)
Sinterklas mengendarai kendaraan hias di Parade Hari Thanksgiving Macy di New York, 24 November 2022. (Foto oleh Charles Sykes/Invision/AP)

Washington DC, helloborneo.com – Tawa khas Sinterklas tidak begitu banyak terdengar di Amerika tahun ini karena sedikitnya jumlah mereka yang bersedia menjadi Sinterklas. 

Cahaya Natal berkelap-kelip di seluruh kota New York. Toko-toko menjadi hidup dengan berbagai pajangan di jendela toko yang rumit dan menarik perhatian banyak pembeli. Semua cerah dan ceria, kecuali kursi merah tempat Sinterklas biasanya menyapa anak-anak, yang merupakan tradisi di Amerika.

Tidak banyak toko yang bisa menghadirkan Sinterklas karena di Amerika sedang terjadi kelangkaan Sinterklas; suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pendiri HireSanta & Head Elf, Mitch Allen mengatakan, “Kekurangan yang kami alami adalah karena tingginya permintaan. Baik untuk kunjungan ke rumah hingga pusat perbelanjaan. Dibanding tahun lalu, ada kenaikan permintaan Sinterklas hingga lebih dari 20 persen, dan bahkan lebih dari 120 persen dibanding saat pra-pandemi. Untuk setiap Santa yang menghubungi kami untuk menjadi menjadi Sinterklas penghibur, ada 20 pelanggan yang mengontak kami,” jelasnya.

Allen mengatakan selain peningkatan permintaan, COVID-19 juga berdampak nyata pada ketersediaan Sinterklas.

“Selama tahun 2020 dan 2021, COVID-19 menimbulkan dampak sangat berat bagi komunitas Sinterklas. Kami kehilangan ratusan Sinterklas penghibur. Dalam beberapa tahun terakhir kami kehilangan sekitar 10 persen dari komunitas Sinterklas ini, baik karena COVID-19, maupun karena mereka memutuskan pensiun dan menggantungkan jas merahnya,” imbuhnya.

Tetapi beberapa komunitas yang beruntung dapat memesan Sinterklas musim ini, termasuk di lingkungan Middletown, New Jersey ini. Salah seorang penyelenggara acara Natal, Gary Tulp, mengatakan, “Kami sangat beruntung, sangat diberkahi karena mendapatkan seseorang yang bersedia datang dan memeriahkan acara khusus ini untuk anak-anak kami. Kami tahu sangat sulit untuk menemukan mereka sekrang ini dan kami merasa sangat beruntung. Ini sangat menggembirakan.”

Dan anak-anak yang mengikuti pesta Natal memiliki alasan tersendiri untuk bicara dengan Sinterklas. Salah seorang diantaranya adalah Emily.

“Ada banyak hadiah yang tidak diperkenankan orang tua saya untuk dibeli karena mungkin terlalu mahal. Tapi kita dapat selalu berharap pada Sinterklas,” jelasnya.

Para Sinterklas senang dapat ikut membahagiakan anak-anak, kecuali tahun ini karena langkanya orang yang menjadi Sinterklas penghibur. James Kelly, yang tahun ini menolak ratusan permohonan menjadi Sinterklas, mengatakan, “Hari ini saja saya terpaksa menolak 20 permintaan menjadi Sinterklas karena saya sudah menerima pesanan untuk waktu-waktu tertentu. Dalam dua bulan terakhir ini saya telah menolak 580 permintaan. Ini membuat hati saya sangat pedih.”

Untuk mengatasi kekurangan Sinterklas ini, organisasi seperti Worldwide Santa Claus Network meningkatkan program pendidikan untuk membantu menginspirasi orang lain agar bergabung dengan keluarga Sinterklas.

Pendiri Worldwide Santa Claus Network Ed Taylor mengatakan, “Jadi saya membuat banyak kelas dan eBook gratis untuk orang-orang sehingga mereka dapat memiliki gambaran tentang Sinterklas dan memutuskan pekerjaan ini tepat atau tidak untuk mereka. Saya sedang dalam misi besar untuk merekrut orang-orang yang berhati baik untuk membantu Sinterklas yang sudah tua ini.”

Dengan upaya menjangkau lebih banyak orang ini, diharapkan tahun depan akan tersedia lebih banyak Sinterklas untuk menyemarakkan libur Natal. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.