Edy Suratman Yulianto

Penajam, helloborneo.com – Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang semakin meningkat menjadi momok tersendiri. Butuh kerjasama beberapa pihak untuk berupaya merentaskan kasus tersebut.
Menurut Nadhiratul Amalia, Analis Perlindungan Perempuan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, bisa dibilang fenomena puncak gunung es.
“Apalagi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini merupakan fenomena puncak gunung es,” kata Nadhiratul Amalia.
Dijelaskan dirinya, kasus yang tampak adalah sebagian kecil dari jumlah yang sebenarnya terjadi. Namun butuh keberanian untuk bisa melaporkan kejadian, baik yang dialami sendiri maupun orang lain.
“Dimana kasus yang tampak atau terlaporkan bisa dibilang sebenarnya hanya sebagian kecil dari jumlah kasus sesungguhnya,” tuturnya.
Dinas terkait bersama masyarakat akan berupaya untuk memberikan edukasi. Masyarakat harus mampu menyebarkan cara pencegahan dan penanganan kasus baik yang dialami secara pribadi, keluarga ataupun masyarakat lainnya.
“Kita sebagai masyarakat harus tetap menedukasi diri dan orang-orang disekitar, mengenai cara pencegahan dan penanganan, apabila mengalami atau melihat tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” jelasnya.
Menurutnya peningkatan jumlah kasus sudah menjadi momok tersendiri yang sukar dihilangkan. Kekerasan terhadap perempuan dan anak harus segera dihentikan.
“Stop Kekerasan terhadap perempuan dan anak. Peningkatan jumlah ini memang seperti menjadi momok tersediri bagi kita,” pungkasnya. (adv/log)
















