Bagus Purwa

Penajam, helloborneo.com – Serap aspirasi atau reses tidak hanya dimanfaatkan untuk menyerap keluhan masyarakat tentang berbagai hal seperti, pendidikan, keagamaan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga infrastruktur.
Menghadapi dampak dari perpindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tak jauh dari Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), perlu dihadapi secara serius. Tidak hanya dengan mengulurkan tangan kepada masyarakat melalui berbagai bantuan secara fisik. Namun peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Syahrudin M Noor mengungkapkan bahwa berbagai sektor seperti pertanian, peternakan hingga perikanan perlu mendapatkan akselerasi.
“Tentu ingin seiring, sejalan dengan hadirnya Ibu Kota Negara itu, upaya kita ya harus bagaimana pengembangan SDM. Pengembangan SDM itu bisa betul-betul diaplikasikan di bawah bukan hanya pengembangan SDM itu hanya dari satu sektor semua sektor” kata Syahrudin M Noor.
Dalam sektor pertanian, menurutnya petani tidak lagi melakukan panen secara konvensional. Hal tersebut dianggap memperlambat produksi panen. Dimana saat ini membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk bisa panen padi seluas satu hektar.
“Kemudian memanen dengan ani-ani seperti ini kan, tidak lagi memanen itu sudah pakai combine harvester, satu hari satu hektar bisa selesai. Tapi dengan teknologi yang kekinian itu saya kira petani kita sudah semakin maju dan ini harus kita upayakan,” ungkapnya.
Kemudian melalui sektor peternakan, seperti peternakan sapi seharusnya dikelola secara korporasi, yakni mengkonsolidasikan kelompok-kelompok ternak dalam satu kelembagaan dengan sistem pemeliharaan ternak yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan bentuk koperasi.
“Korporasi itu pengelolaannya secara profesional, ada 1.000 ekor sapi dibuat oleh satu kelompok, kemudian dibentuk koperasinya ada beberapa orang yang pelihara sapi jadi satu kandang seribu itu” ujarnya.
Lalu melalui sektor perikanan, para nelayan tidak lagi membuang alat tangkap yang rusak. Para nelayan harus juga belajar merawat dan memperbaiki alat tangkap. Jangan sampai menjadi limbah dari alat tangkap yang kemudian dibuang.
“Rengge-rengge yang robek itu jangan dibuang aja, jadi sampah, jadi limbah tapi sekarang ini kita mau supaya mereka itu bisa memelihara bisa merepair alat-alat tangkapnya itu, padahal itu masih bisa dimanfaatkan,” pungkasnya. (adv/log)

















