Edy Suratman Yulianto

Cikeas, helloborneo.com – Dengan berbagai kiprahnya dalam memajukan dunia literasi, Yansen Tipa Padan atau Yansen TP, tak hanya dianggap sebagai pegiat, tapi ditegaskan oleh para pegiat literasi dan penulis nasional patut dijadikan sebagai ‘Penggerak Literasi Nasional’.
Hal itu terungkap dan ditegaskan saat peluncuran buku ‘Menjelajahi Misteri Perbatasan’ yang merupakan hasil kolaboratif belasan pegiat literasi dan penulis nasional dengan Yansen TP, Jumat (01/03/2024) di Sekolah Alam Cikeas , Bogor, Jawa Barat.
“Saya kurang setuju kalau Bapak (Yansen TP) sebagai pegiat literasi, bapak itu penggerak literasi harusnya,” tegas Herman Syahara, penyair nasional yang juga merupakan jurnalis ini.
Alasan Herman Syahara menegaskan bahwa, Yansen TP penggerak literasi, karena keaktifannya dalam bidang literasi yang sudah menelurkan banyak karya tulis walaupun sedang aktif di dunia birokrasi dan saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara).
“Dengan bapak menulis sudah 10 buku, pegiat atau pelaku itu saya rasa sudah lewat Pak. Bapak penggerak, sebab ketika melihat sosok Bapak, saya tergerak, kita semua tergerak untuk menulis,” kata pria yang turut menulis syair puisinya dalam buku Menjelajahi Misteri Perbatasan.
Peluncuran buku Menjelajahi Misteri Perbatasan bagian dari rangkaian acara Indonesia Green Book Festival yang diselenggarakan Sekolah Alam Cikeas bersama Gramedia yang diselenggarakan mulai 26 Februari hingga 2 Maret 2024.
Buku yang isinya menarasikan tentang perbatasan Indonesia di Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) ini ditulis berawal dari kegiatan Batu Ruyud Writing Camp (BRWC) I yang dilaksanakan tahun 2022 lalu di Batu Ruyud, Fe’ Milau, Krayan Tengah.
“Dr. Yansen TP, M.Si dan para alumni peserta BRWC I meluncurkan buku hasil writing camp yang dilaksanakan pada Oktober-November 2022 lalu di Batu Ruyud, Krayan Tengah,” ujar Dodi Mawardi, Direktur Sekolah Alam Cikeas, sekaligus Ketua Panitia Acara Indonesia Green Book Festival.
Dalam kegiatan BRWC I itu, jelas Dodi Mawardi yang dikenal sebagai penulis buku best seller Gramedia ini, menghadirkan 15 pegiat literasi dan penulis nasional yang menginap selama sepekan di tengah hutan sambil berbagi ilmu menulis kepada warga sekitar.
“Ada Pepih Nugraha, pendiri Kompasiana, Arbain Rambey, penulis dan fotografer profesional, Masri Sareb Putra, sastrawan angkatan 2000 dan Arip Senjaya, penulis terbaik Perpusnas 2022 yang juga Dosen FKIP Untirta bidang filsafat dan sastra,” sebut Dodi.
Kemudian, ada juga Johan Wahyudi, penulis buku ajar terbaik Perpusnas, Wulan Ayodya, penulis buku wirausaha terbaik Perpusnas, Eko Nugroho, senior editor Elex Media Komputindo (Gramedia Group), Herman Syahara, penyair nasional, Edrida Pulungan, penulis dan ASN terbaik, Agustina, mentor forum Indonesia menulis berasal dari Kalimantan Barat, Arie Saptaji, pengarang buku puluhan buku dan Matius Mardani, pegiat literasi Jakarta.
Sementara itu, Yansen TP sebagai penggagas BRWC menyebut bahwa buku Menjelajahi Misteri Perbatasan menjadi salah satu bukti adanya tonggak sejarah lahirnya peradaban baru literasi secara nasional, lahir dari Batu Ruyud di wilayah perbatasan dan pedalaman Kaltara, sebab dalam pelaksanaan BRWC I ada deklarasi Literasi Dayak dan Literasi Sunda.
Oleh karena itu, Yansen TP yang hadir didampingi istri dan anaknya, menegaskan bahwa peluncuran buku ini bukan sekadar tren tapi memang sebuah konsep pembangunan. Di mana di dalamnya ada sebuah nilai yang harus diketahui dan dipahami semua kalangan.
“Jadi harapan kami peluncuran buku yang dilaksanakan di Sekolah Alam Cikeas ini ibarat kata kita ungkapkan sebagai sebuah nilai yang harus dipahami dan diketahui oleh khalayak dan bahkan oleh pemerintah,” kata Wagub Kaltara ini.
“Maksud dan tujuan adanya BRWC adalah bentuk itikad para pegiat literasi dan penulis nasional untuk kebangkitan peradaban berliterasi dan tekad bersama mendorong bertumbuh berkembangnya literasi nasional,” tambah pria yang sudah menulis banyak buku dan salah satu bukunya berjudul ‘Kaltara Rumah Kita’.
Soal kenapa tempat peluncuran buku di Sekolah Alam Cikeas, karena merupakan tempat yang dianggap Bupati Malinau periode 2011-2016 dan 2016-2021 ini spesial. Sebab, Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertempat tinggal tidak jauh dari Sekolah Alam Cikeas.
“Jadi saya kira tidak salahlah, kalau Cikeas ini menjadi daya ungkit isu literasi nasional. Semoga apa yang kami gagas ini sebagai bentuk kebangkitan literasi,” kata suami Ping Ding ini sambil berharap melalui buku tersebut bisa mengungkapkan sepercik cerita dan harapan masyarakat perbatasan.
Atas diluncurkannya buku Menjelajahi Misteri Perbatasan yang tak lain lahir dari BRWC, diapresiasi Pendiri Kompasiana, Pepih Nugraha. BRWC I menjadi tonggak kebangkitan literasi nusantara karena adanya deklarasi literasi Dayak dan juga Literasi Sunda yang gagasannya muncul dari seorang Yansen TP.
Sebab itulah, menurutnya wajar seorang Yansen TP yang dikenal dengan akronim nama YTP itu disebut sebagai penggerak literasi nasional. Karena dari daerah, Yansen TP membangkitkan literasi hingga menasional.
“Saya melihat sesuatu yang aneh dan luar biasa yang saya sendiri, maaf kalau saya mengatakan sebagai orang Sunda tidak terpikir sama sekali, malah Pak Yansen yang berpikir lebih jauh, kenapa tidak sekalian deklarasi literasi orang Sunda dan itu terjadi di pedalaman Kalimantan,” ungkap CEO PepNews ini. (log)
















