Profil Mudyat Noor, Anak Guru Mengaji Ingin Jadi Bupati

Edy Suratman Yulianto

H Mudyat Noor S.Hut (Tengah). (Ist)
H Mudyat Noor S.Hut (Tengah). (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Konstalasi politik lima tahunan dalam waktu dekat akan kembali digelar, salah satunya Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang akan tersenggara pada November tahun 2024 mendatang.

Beberapa kandidat mulai bermunculan di Kabupaten PPU, seperti Mudyat Noor yang sudah sempat duduk sebagai Anggota DPRD Kalimantan Timur sejak usia 30 tahun atau tahun 2009 – 2014.

Tapi, siapa sangka dibalik kesuksesannya dalam berpolitik, ternyata pria 45 tahun tersebut hanya berasal dari keluarga yang terbilang biasa-biasa saja.

Mudyat Noor yang lahir di Kota Samarinda pada 9 Februari 1979 merupakan anak dari pasangan Mahmud dan Yatinah serta tumbuh sejak kecil hingga besar di keluarga pengajar atau pendidik.

Ayahnya berprofesi sebagai guru ASN di sekolah menengah di Samarinda dan ibunya sebagai ibu rumah tangga sekaligus berprofesi sebagai guru mengaji Al-Qur’an di kampungnya. Bahkan, sejak kecil Mudyat Noor sering dijuluki Si Anak Guru Mengaji oleh teman-temannya.

Anak Guru Mengaji ini memulai pendidikannya di SDN 033 Sei Pinang Dalam, SMPN 6 Samarinda, dan SMAN 2 Samarinda. Setelah menyelesaikan pendidikan wajibnya, Mudyat Noor melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi pada Fakutas Kehutanan Universitas Mulawarman pada tahun 1996.

Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Mudyat Noor juga aktif terlibat dalam pergerakan organisasi mahasiswa. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) jadi organisasi ekstra kampus yang dipilih omeh Mudyat Noor muda saat itu untuk mengembangkan potensinya dalam bidang keilmuan, pergerakan serta kepemimpinannya.

Selama di HMI, Mudyat Noor tumbuh menjadi aktifis dan organisatoris yang handal, bahkan ia juga turut terlibat dalam pergerakan reformasi 1998.

“Hal itulah yang melatarbelakangi saya untuk tertarik mengabdi pada masyarakat melalui jalur politik,” ujar Mudyat Noor.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, Mudyat Noor juga sempat ditawari untuk menjadi PNS oleh kenalannya, namun ia menolak dan tetap konsisten aktif dalam dunia organisasi mulai dari KNPI, HIPMI, Kadin hingga menjadi presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Kota Samarinda saat ini.

Keaktifan dan besarnya potensi yang dimiliki Mudyat Noor muda, membuat mantan Walikota Samarinda periode 1999-2010 Almarhum Achmad Amins tertarik dengan bakat kepemimpinan dan politiknya.

“Walau terlahir bukan dari siapa-siapa, selama mau belajar dan berusaha maka semua orang dapat meraih kesuksesan,” tutur Mudyat.

Hobinya membantu masyarakat, diyakini tidak hanya bisa melalui jalur lain selain berpolitik, apalagi saat ini Kabupaten PPU mendapatkan berkah menjadi bagian terdekat dari Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Apalagi saat ini Kabupaten Penajam Paser Utara, mendapatkan berkah yang berlimpah dengan hadirnya IKN, tentu itu juga memicu saya yang orang Kalimantan Timur membantu membangun kesiapkan masyarakat di PPU agar tak tertinggal dengan sejumlah program yang ada,” pungkasnya. (adv/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses