Andi Yusuf, Soroti Kekurangan Tenaga Kesehatan dan Dorong Kebijakan Inovatif

Edy Suratman Yulianto

Anggota DPRD Kabupaten PPU, Andi Yusup. (Ist)
Anggota DPRD Kabupaten PPU, Andi Yusup. (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Andi Yusuf, menyoroti krisis kekurangan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia mendesak pemerintah daerah segera melakukan terobosan inovatif untuk mengatasi masalah tersebut, salah satunya dengan menarik dokter-dokter profesional agar bersedia mengabdi di wilayah Kabupaten PPU.

“Kami di DPRD melihat bahwa tenaga kesehatan di PPU masih sangat terbatas, terutama untuk dokter spesialis. Hal ini berdampak langsung pada kualitas pelayanan kesehatan di daerah kita,” kata Andi Yusuf.

Andi Yusuf mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU mencontoh kebijakan sukses dari beberapa daerah lain yang berhasil menarik dokter dengan menawarkan insentif dan fasilitas yang menarik.

Ia menyoroti contoh dari Kabupaten Tabalong di Kalimantan Selatan (Kalsel), yang berhasil mendatangkan dokter spesialis dengan menawarkan insentif yang signifikan.

“Di Kabupaten Tabalong, insentif untuk dokter spesialis mencapai Rp 50 juta dan untuk dokter umum sebesar Rp 30 juta. Kebijakan ini terbukti efektif menarik dokter untuk bekerja di sana,” ujarnya.

Andi Yusuf menegaskan bahwa Pemkab PPU harus meniru langkah serupa untuk memastikan bahwa kebutuhan tenaga kesehatan di PPU dapat terpenuhi.

Menurutnya, dengan menawarkan insentif yang menarik dan fasilitas yang memadai, dokter spesialis dan dokter umum akan lebih termotivasi untuk tinggal dan bekerja di PPU. Ia mencontohkan bagaimana insentif yang tepat dapat mengurangi ketergantungan PPU dalam merujuk pasien ke daerah lain, seperti Balikpapan.

“Sebagai contoh, jika kita bisa menyediakan insentif dan fasilitas untuk dokter ortopedi, kita tidak perlu lagi merujuk pasien ke Balikpapan. Ini akan sangat mengurangi beban pasien dan mempercepat penanganan medis di PPU,” tegas Andi Yusuf.

Kekurangan dokter di PPU tidak hanya memperpanjang antrian pasien, tetapi juga menyebabkan banyak pasien harus dirujuk ke daerah lain, yang sering kali menghadapi keterbatasan fasilitas, seperti kurangnya ruang dan kasur di rumah sakit. Kondisi ini, menurut Andi Yusuf, menjadi sangat memprihatinkan, terutama dalam situasi darurat.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan, terutama ketika ada kasus darurat seperti kecelakaan. Jika rumah sakit yang dituju penuh, pasien bisa kehilangan nyawa akibat keterlambatan penanganan,” lanjutnya.

Melihat kondisi tersebut, Andi Yusuf juga mendorong Pemkab PPU untuk mendukung pendidikan dokter putra daerah melalui beasiswa dan kontrak kerja jangka panjang. Menurutnya, jika PPU mampu membina tenaga kesehatan lokal, sistem kesehatan daerah akan lebih berkelanjutan.

“Kami berharap setelah mereka lulus dari pendidikan, mereka bisa langsung dikontrak untuk mengabdi di daerah selama 20 tahun. Ini tidak hanya akan memperkuat SDM kesehatan di PPU, tetapi juga menciptakan kesinambungan dalam pelayanan kesehatan,” imbuhnya.

Dengan usulan insentif yang lebih kompetitif, fasilitas yang memadai, serta pengembangan sumber daya manusia lokal, Andi Yusuf optimis PPU dapat memperbaiki sistem kesehatan yang ada. Langkah-langkah ini diyakini bisa menjawab tantangan jangka panjang dan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada seluruh masyarakat.

“Kami ingin memastikan bahwa dokter-dokter terbaik bisa tinggal dan bekerja di PPU, bukan hanya sebagai solusi jangka pendek, tetapi juga untuk memastikan kualitas kesehatan jangka panjang bagi seluruh masyarakat PPU,” pungkas Andi Yusuf. (adv/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses