2025, PertaLife Insurance Ungkap Segmentasi Pasar

PertaLife Insurance. (Ist)
PertaLife Insurance. (Ist)

Bogor, helloborneo.com – Pada 2025, PT Perta Life Insurance atau Pertalife Insurance akan melakukan optimalisasi pendapatan dengan memaksimalkan produk andalan yakni Manfaat Akhir Pesangon (MAPS) yang menyasar peserta dari segmen captive market Pertamina Group.

PT Perta Life Insurance merupakan perusahaan asuransi jiwa nasional Indonesia yang sebelumnya dikenal dengan nama PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri. Perusahaan dimiliki oleh Dana Pensiun Pertamina, PT Timah Tbk. dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Berdiri pada 28 Juni 1985, PT Perta Life Insurance (selanjutnya disebut sebagai PertaLife Insurance) secara resmi menggunakan nama dan logo baru berdasarkan PKR No. 23 RUPS Luar Biasa tanggal 24 November 2021, persetujuan Kemenkumham No. AHU – 0067923.AH.01.02.Tahun 2021 tanggal 29 November 2021, dan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. Kep-881/NB.11/2021 tanggal 28 Desember 2021.a

Dalam acara Media Gathering PertaLife di Bogor, Jawa Barat pada Jumat (24/1/2024), Direktur Pemasaran Pertalife Insurance, Martino Faishal Saudi, mengatakan bahwa pihaknya memiliki dua segmen pasar yaitu captive dan non-captive.

Untuk captive marketi, bisnis perseroan berasal dari lingkungan Pertamina Group dan mitranya seperti PT Timah Tbk (TINS). Sementara non-captive berarti segmen pasar di luar grup Pertamina maupun Timah.

“Ini cukup menantang karena persaingan antarasuransi besar semakin ketat,” kata Faishal

Ditambahkannya, untuk pasar captive, strategi perusahaan meliputi pemberlakuan produk MAPS di seluruh Pertamina Group, penjualan asuransi perjalanan dinas yang terintegrasi dengan aplikasi DTM holding, serta pengelolaan asuransi kesehatan dan program Asuransi Purna Jabatan (ASPUJAB) bagi direksi dan komisaris Pertamina Group. Produk MAPS ditargetkan mampu menyumbang kontribusi premi sebesar Rp333,36 miliar.

Selain itu, Pertalife Insurance juga memperluas penetrasi pasar non-captive melalui produk severance (pesangon) dan pengembangan produk anuitas. Produk severance diharapkan memberikan kontribusi premi sebesar Rp292,13 miliar, dengan target terbesar dari PT Petrokimia senilai Rp253,86 miliar.

“Strategi kami di captive itu tidak hanya bicara angka, tapi juga bagaimana memperkuat sinergi dengan Pertamina Group. Ketika captive-nya kuat, secara perlahan bisnis ini akan menarik perusahaan-perusahaan serupa di pasar non-captive,” tambah Faishal.

Faishal menekankan pentingnya memperluas kanal distribusi untuk menjangkau lebih banyak nasabah. PertaLife akan memanfaatkan berbagai kanal seperti bancassurance melalui bank umum, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bank Pengkreditan Rakyat (BPR), hingga fintech seperti MyPertamina.

Langkah ini juga akan didukung oleh digitalisasi layanan guna memberikan kemudahan bagi nasabah. “Bisnis ini tidak bisa dikelola secara manual. Nasabah ingin layanan yang serba digital, mulai dari pendaftaran hingga klaim. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan IT Pertamina untuk memastikan proses digitalisasi berjalan optimal,” katanya.

Namun, Faishal mengakui bahwa perubahan kebijakan, terutama di captive market, menjadi tantangan tersendiri. Implementasi PSAK 117 juga membawa dampak pada pencatatan keuangan dan operasional perusahaan. Untuk mengantisipasi hal itu, PertaLife Insurance akan melakukan penyesuaian produk dan target pasar, termasuk penjualan produk personal accident melalui aplikasi DTM.

“Setiap perubahan kebijakan adalah tantangan, tapi sekaligus peluang. Dengan langkah yang tepat, kami percaya dapat menjaga kesinambungan bisnis, bahkan terus bertumbuh,” tutupnya. (ip/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses