Edy Suratman Yulianto

Penajam, helloborneo.com – Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus mendorong perubahan perilaku, sikap, dan keterampilan petani dalam mengelola lahan pertanian, khususnya pasca panen. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan jerami setelah masa panen.
“Selama ini, setelah panen, jerami dibiarkan begitu saja hingga sebulan. Katanya busuk, padahal bukan busuk, malah tumbuh hijau lagi dan keluar malainya. Nah, ini yang ingin kita ubah,” ujar Gunawan, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU.
Gunawan mengakui bahwa perubahan pola pikir dan kebiasaan petani tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan proses dan waktu, apalagi selama ini tantangan utama seringkali dikaitkan dengan serangan hama dan penyakit.
“Seringkali disebut karena hama penyakit, tapi saya rasa itu bukan alasan utama. Bahkan beberapa petani sendiri sudah menyatakan berhasil menghindari serangan hama,” katanya.
Ia menceritakan pengalamannya berbincang dengan seorang petani bernama Prihatin. Saat ditanya soal keberhasilannya, sang petani menyebut telah berhasil panen tanpa gangguan hama, namun hanya mampu menghasilkan 3 ton per hektare.
“Itu masih jauh dari target kita. Di Babulu, kita menetapkan target minimal 4 ton per hektare. Kalau itu bisa tercapai, kita sudah berada di jalur yang baik,” jelas Gunawan.
Untuk mengejar target tersebut, Distan PPU mendorong percepatan masa tanam, terutama di Musim Tanam (MT) ke-2 dan ke-3. Gunawan menegaskan pentingnya olah lahan secara cepat usai panen agar bisa langsung ditanami kembali.
Menurutnya langkah ini diharapkan bisa menjadi strategi jangka panjang untuk meningkatkan produksi padi di wilayah PPU dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Kemarin kita kejar-kejar petani di desa-desa yang sudah mulai olah lahan supaya segera ditanami. Tujuannya biar bisa mengejar MT ke-3. Kalau MT 3 bisa terlaksana, dan air masih tersedia, maka kita bisa meminimalisir risiko kekurangan air dan menjaga produktivitas,” pungkasnya. (adv/kmf/log)
















