Angka Kemiskinan di PPU Menurun, Fokus Program Kini Lebih Inklusif

Edy Suratman Yulianto

Kepala Dinas Sosial Kabupaten PPU, Saidin. (Ist)
Kepala Dinas Sosial Kabupaten PPU, Saidin. (Ist)

Penajam, helloborneo.com – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan capaian positif di tahun 2024 dengan terjadinya penurunan angka kemiskinan. Berdasarkan data terbaru, jumlah warga miskin mengalami penurunan dari tahun 2023. Tahun 2024 kini menjadi sekitar 10.780 jiwa atau 6.69% dari jumlah penduduk.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten PPU, Saidin, menyebutkan bahwa penurunan ini menjadi indikator bahwa program-program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan pemerintah daerah mulai menunjukkan hasil.

“Tiap tahun memang kita targetkan ada penurunan sekitar dua persen lebih, dan syukur alhamdulillah, tahun ini kita berhasil mencapainya,” ungkap Saidin.

Saidin menegaskan bahwa tren penurunan ini merupakan hasil dari penguatan berbagai program sosial dan pemberdayaan yang selama ini dijalankan. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah penyesuaian sasaran program bantuan yang kini lebih inklusif. Jika sebelumnya program bantuan lebih berfokus pada individu seperti Wanita Rawan Sosial (WRS), kini pendekatannya akan bergeser ke arah penguatan kelompok.

“Kita ingin ke depan lebih memprioritaskan kelompok. Jadi tidak hanya untuk perempuan, tapi juga laki-laki yang masuk dalam kelompok rentan,” jelasnya.

Salah satu contoh konkret adalah program Kelompok Usaha Bersama (KUBE), yang menjadi andalan Dinas Sosial dalam meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat miskin. Program ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap bantuan langsung dan mendorong produktivitas kelompok masyarakat.

Saidin juga menyampaikan bahwa dari evaluasi program 2024, terlihat bahwa pembatasan penerima manfaat pada kelompok tertentu belum cukup efektif dalam menurunkan angka kemiskinan secara merata. Oleh karena itu, perubahan pendekatan menjadi lebih inklusif dinilai sebagai langkah strategis untuk tahun-tahun mendatang.

“Kalau kita tidak tangani kelompok-kelompok rentan ini secara menyeluruh, maka potensi terjadinya kemiskinan baru akan tetap ada. Jadi sekarang kita ingin lebih menyasar kelompok yang memang berisiko secara sosial dan ekonomi, bukan hanya berdasarkan kategori gender,” tegasnya. (adv/kmf/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses