Edy Suratman Yulianto

Penajam, helloborneo.com – Proyek pengembangan pelabuhan di kawasan Kecamatan Penajam kembali mencuat menjadi sorotan. Meskipun sempat dilakukan ground breaking pada masa kepemimpinan sebelumnya, hingga kini belum ada perkembangan signifikan yang bisa dirasakan masyarakat.
“Ini kan sudah jadi mimpi lama kita semua. Sejak zaman Pak Marbun, PJ Zainal, sampai sekarang Pak Muhyat, pelabuhan itu belum juga terwujud,” kata Rusbani, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten PPU.
Menurutnya, proyek pelabuhan yang strategis ini seharusnya menjadi prioritas pembangunan karena memiliki dampak besar terhadap perekonomian daerah. Sayangnya, belum terlihat langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menuntaskan pembangunan tersebut.
“Kalau memang ada kendala, ya harusnya dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai masyarakat terus-menerus diberi harapan kosong,” tambahnya.
Salah satu faktor utama yang dinilai menjadi hambatan adalah lemahnya komitmen serta keterbatasan alokasi anggaran dari pemerintah daerah. DPRD menilai, selama tidak ada political will yang kuat, proyek pelabuhan hanya akan terus menjadi wacana.
DPRD Kabupaten PPU meminta agar pemerintah daerah menjadikan pelabuhan sebagai salah satu prioritas dalam rencana pembangunan jangka menengah. Apalagi, pelabuhan menjadi wajah depan Penajam dari sisi laut.
“Sudah lebih dari 20 tahun sejak pelabuhan ini diwacanakan. Sayang kalau potensi ekonomi yang besar ini tidak digarap dengan serius,” katanya.
Diketahui, sejumlah anggota DPRD telah beberapa kali melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pelabuhan, namun belum melihat perkembangan yang berarti. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa proyek ini kembali akan mangkrak.
DPRD Kabupaten PPU berharap di bawah kepemimpinan Bupati Kabupaten PPU, Mudyat Noor dan dukungan legislatif, proyek pelabuhan bisa segera terealisasi.
“Kalau pemerintah serius, kami di DPRD tentu akan mendukung penuh, termasuk dari sisi penganggaran,” tutupnya. (adv/log)
















