Edy Suratman Yulianto

Penajam, helloborneo.com – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Al-Ikhlas di Kelurahan Nipah-nipah, Kecamatan Penajam, saat ratusan umat muslim berkumpul untuk menunaikan Sholat Idul Adha 1446 Hijriah. Di antara para jamaah, hadir langsung Bupati Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor, yang turut bersama masyarakat dalam merayakan hari besar umat Islam tersebut.
Didampingi Wakil Bupati PPU, Waris Muin, Sekretaris Daerah PPU, Tohar, sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan Dandim 0913/PPU Letkol Inf Arfan Affandi, kehadiran orang nomor satu di PPU itu menunjukkan kedekatannya dengan warga dan kuatnya semangat kebersamaan di momentum Idul Adha.
Mudyat Noor mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H kepada seluruh masyarakat PPU. Ia juga menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin, baik atas nama pribadi, keluarga, maupun Pemerintah Kabupaten.
“Di hari yang penuh berkah ini, mari kita perkuat tali silaturahmi dan kebersamaan sebagai landasan membangun daerah,” ucapnya.
Tak hanya menyampaikan pesan seremonial, Bupati juga mengajak masyarakat untuk meneladani semangat pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ia menekankan bahwa esensi kurban bukan semata-mata penyembelihan hewan, tetapi pengorbanan ego, keikhlasan, dan pengabdian terhadap Tuhan dan sesama.
“Semangat pengorbanan ini menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan yang lebih adil, bermakna, dan sejahtera,” jelas Mudyat Noor.
Mudyat Noor juga menyoroti pentingnya menjaga solidaritas sosial. Ia mengingatkan bahwa berbagi daging kurban kepada sesama, terutama kepada warga yang membutuhkan, adalah bentuk nyata dari kepedulian sosial dan gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat Indonesia.
“Hari Raya Idul Adha adalah momen berbagi dan memperkuat kohesi sosial,” tambahnya.
Dalam suasana keagamaan yang sakral itu, ia juga menyampaikan pesan toleransi dan kebhinekaan. Menurutnya, keberagaman suku, agama, dan budaya merupakan anugerah yang harus dijaga. Ia mengajak masyarakat PPU untuk terus menumbuhkan sikap saling menghargai.
“Tepo seliro dan toleransi harus menjadi budaya kita sehari-hari, agar hidup berdampingan dalam perbedaan menjadi kekuatan, bukan perpecahan,” tegasnya. (adv/kmf/log)
















