Disdikpora Penajam Terapkan Program 15 Menit Membaca

AH Ari B

 

Kepala Disdikpora Kabupaten Penajam Paser Utara, Marjani (AH Ari B – Hello Borneo)

Penajam, helloborneo.comDinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, akan menerapkan program membaca 15 menit sebelum pelajaran sekolah untuk meningkatkan budaya baca pelajar di daerah setempat

“Kami akan menerapkan program membaca 15 menit selain buku pelajaran di seluruh sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan untuk menggerakan minat baca pelajar,” kata Kepala Disdikpora Kabupaten Penajam Paser Utara Marjani, ketika dihubungi helloborneo.com di Penajam, Sabtu.

Marjani menegaskan program membaca 15 menit sebelum pelajaran sekolah harus dilaksanakan seluruh sekolah di wilayah Penajam Paser Utara, mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas pada 2017.

Program membaca buku selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran sekolah tersebut lanjut dia, sebagai upaya meningkatkan minat baca pelajar yang dinilai semakin menurun.

“Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini budaya dan minat membaca pelajar cendrung menurun, kendati belum ada data pasti, sehingga perlu ada upaya untuk mengembalikan budaya baca itu,” jelas Marjani.

“Kami meminta setiap sekolah untuk mengganti piala yang sudah lama dipajang dengan buku bacaan yang dapat dibaca anak didik,” ujarnya.

Bagi sekolah yang belum memiliki perpustakaan Marjani menyarankan, agar sekolah meminta masing-masing anak didik membawa buku bacaan selain buku pelajaran dari rumah.

Program membaca 15 menit sebelum pelajaran di sekolah itu, menurut ia, merupakan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

“Gerakan membaca 15 menit itu, juga untuk menumbuhkan budi pekerti dan membentuk karakter anak didik menjadi lebih baik,” ucap Marjani.

Kebijakan membaca 15 menit selain buku pelajaran sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan tersebut tambahnya, harus mendapat pengawasan dari tenaga pendidik si setiap sekolah.

“Pengawasan itu untuk menghindari adanya buku yang tidak layak dibaca bagi anak didik dan berisiko menimbulkan dampak negatif,” kata Marjani. (bp/*rol)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.