Diduga Virus Hog Cholera, Ternak Babi di Berau, 60 Ekor Babi Mati Massal

Foto Istimewa.

Berau, helloborneo.com – Sebanyak 60 ekor babi milik peternak di Kampung Paribau dan Maluang Kabupaten Berau, mati secara massal. Hal ini membuat Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim melakukan pengecekan langsung ke lapangan, untuk mengetahui penyebab kematian tersebut.

Sekretaris Kampung Maluang, Agus mengatakan berdasarkan penuturan dari pemilik ternak di RT 5, babi mereka tidak mau makan, dan setelah beberapa hari, ditemukan puluhan ekor babi sudah mati. Pihaknya mengaku langsung melaporkan kejadian tersebut ke Distanak Berau. “Sudah kami laporkan,” katanya.

Agus juga mengimbau kepada warga sekitar untuk tetap menjaga kebersihan, dan jika hendak ke kandang babi agar menggunakan sarung tangan dan masker. Agus menegaskan anak-anak sebaiknya jangan bermain di sekitar lokasi ternak untuk sementara waktu.

“Ini untuk jangka pendeknya, karena masih menunggu hasil, apa penyebab kematian dari babi tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteniter (Kabid Keswan dan Kesmavet), I Putu Setion mengatakan, usai mendapat laporan pihaknya langsung melakukan pengecekan kelapangan, data terbaru sebanyak 60-an ekor babi mati di empat RT yang berada di Maluang dan Paribau.

“Disana ada 647 populasi di Kampung Maluang dan Paribau,” bebernya.

Lebih lanjut, awalnya laporan masuk pada tanggal 10 Mei 2021 lalu, kemudian dari Distanak mengirimkan dokter hewan ke lokasi, oleh dokter diberikan obat, namun ternaknya sudah loyo. Dugaan sementara penyebab mati massalnya hewan ternak tersebut diduga karena terserang virus Hog Cholera. Kendati memerlukan penanganan lebih lanjut, pihaknya akan bekerja sama dengan provinsi untuk mengambil sample darah agar penyakit dapat diantisipasi serta mengurangi angka kematian.

“Itu masih dugaan sementara, sambil menunggu samplenya,” paparnya.

Putu mengatakan, virus tersebut jika memang benar, maka ini baru yang pertama kali muncul di Bumi Batiwakkal. Namun, ia belum bisa memastikan, karena masih akan dilakukan pemeriksaan dari Labotarium.

“Untuk memastikan kondisi hewan ternak babi selalu dikontrol dan dipisahkan untuk sementara waktu. Kami berharap agar tidak benar dugaan virus tersebut, akan segera ditindak lanjuti lagi bagaimana penanganannya,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim, Siti Saniatun Saadah yang juga merupakan dokter hewan menjelaskan Hog Cholera juga disebut sebagai demam babi yang cukup serius dan fatal.

“Dugaan ini baru pertama kami di Kaltim, kami sangat fokus untuk menangani ini. Kalau dari sisi ekonomi jika kematian semakin banyak, peternak bisa sangat rugi,” ungkapnya.

Meski begitu, Hog Cholera masih menjadi dugaan sementara saja. Sebab, masih ada 3 dugaan penyakit lainnya salah satunya yang disebabkan oleh bakteri. Sementara ini antisipasi yang diperingatkan kepada peternak berupa untuk segera membersihkan diri setelah menangani ternak babi, dan jangan mencampur ternak yang sakit.

Siti melanjutkan, dari pihaknya mulai mencari sebab melalui wawancara dengan peternak dan pengambilan sampel yang diharapkan bisa cepat keluar. Mereka menduga bisa jadi virus ditemukan melalui pakan dan produk daging babi yang terkontaminasi. Penularan juga dapat terjadi melalui proses perpindahan ternak yang terinfeksi.

“Setelah hasil keluar melalui sampel darah, segera akan ditindak lanjuti bagaimana penanganannya. Yang terpenting angka kematian populasi harus sangat ditekan,” tutupnya. (/sop/nr/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses