Berkat Pendampingan, Petani Kakao di Kecamatan Kelay Berhasil Merambah Pasar Internasional

Foto Istimewa.

Berau, helloborneo.com – Dinas Perkebunan Kabupaten Berau menilai, pendampingan yang dilakukan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) terhadap petani kakao cukup berhasil, ditandai dengan adanya peningkatan harga jual dan mulai merambah ke pasar internasional.

Menurut Gunawan Wibisono, Berau Goverment Relation Manager, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pihaknya melakukan pendampingan kepada petani Kakao di Kampung Merasa Kecamatan Kelay Kabupaten Berau, selama setahun lebih, masyarakat di edukasi untuk mengembangkan hasil panen buah kakao mereka.

Ia memaparkan selama ini terlihat para petani hanya menanam, memanen, lalu menjual buah kakao, sehingga harganya relatif murah, yakni sekitar Rp20 ribuan saja per kilogram (kg). Sementara potensi kakao cukup besar, dengan kuantitas yang cukup banyak.

“Selama ini kita melihat, mereka hanya menjual buah saja, padahal kalau dikembangkan pasti akan meningkatkan kemandirian ekonomi,” ucapnya, Minggu (13/6/2021)

Berkat pendampingan itu, para petani pun mulai pengembangan dengan berinovasi menjadi buah kakao fermentasi, dan telah berhasil merambah pasar internasional. Teranyar, 200 ton di ekspor ke Jerman, sisanya 300 ton telah di ekspor ke Bali.

“Jumlah yang di ekspor ini baru 200 ton, memang masih minim, karena ini baru setahun berjalan”, tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Sumaryono menyebutkan komoditas kakao di Berau tersebar di 10 kecamatan seperti Kelay, Derawan dan Maratua, serta kecamatan lain dengan total luasnya 1.600 hektare, untuk di kampung Merasa sendiri seluas 410 hektare.

“Untuk kakao tersebar di 10 kecamatan, di kecamatan Kelay salah satunya”, tuturnya.

Dengan luasan sekian, komoditas kakao dapat menyumbang ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 5,3 persen. Diharapkan dengan adanya pengembangan serta ekspor ke luar daerah hingga keluar negeri, sumbangsi kakao dapat terus meningkat.

Meski demikian ia mengakui permintaan pasar belum bisa dipenuhi saat ini karena keterbatasan buah kakao, sehingga butuh peremajaan terhadap tanaman tersebut.

“Kita akan siapkan bibit baru kalau para petani kakao membutuhkan”, tutupnya. (nr/sop/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.