Tidak Mengumumkan Juara Umum, MTQ KE-VI Tingkat Provinsi Kaltara Resmi Ditutup

Dok. Kegiatan penutupan MTQ-VI Kalimantan Utara tahun 2021, Minggu (20/06/21).

Bulungan, helloborneo.com – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal A. Paliwang resmi menutup Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Kalimantan Utara ke-VI Tingkat Provinsi Tahun 2021 di Ruang Serbaguna, Gedung Gabungan Dinas, Minggu (20/6/2021)

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaran MTQ ke-VI tahun ini digelar tanpa menunjuk juara umum karena dilakukan secara daring.

Berdasarkan Surat Keputusan Koodinator Dewan Hakim MTQ ke IV Daring Tingkat Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2021, nomor 001/DH/MTQ-PROV/KALTARA/2021. Sebanyak persaingan untuk 50 juara terbaik, berhasil diraih terbanyak oleh Kabupaten Bulungan dengan 13 juara terbaik 1, Kabupaten Tarakan dan Kabupaten Nununkan mendapat 11, Kabupaten Malinau sebanyak 8 dan terakhir Kabupaten Tana Tidung hanya mencapai 6.

Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Paliwang mengatakan dari hasil kali ini, , guna meningkatkan kemampuan peserta, pembinaan harus dilakukan secara baik hingga hasil juara ditingkat MTQ Nasional ke 29 tahun 2022 kedepan sesuai dengan harapan.

“Nanti kita akan tingkatkan kemampuannya dan sering berlatih dibimbing. Seteleh ini kita harus lakukan pembinaan, baik Alquran dan kaligrafi, sehingga di tingkat nasional bisa meraih hasil prestasi baik,” kata Zainal Paliwang, Minggu (20/06/21).

Mantan Wakil Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Utara periode 2018-2020 itu juga berencana akan memanfaatkan hasil karya Kaligrafi untuk menjadi hiasan di Kantor Gubernur Kalimantan Utara dan di Bandar Udara Internasional Juwata, Kota Tarakan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kaltara, Saifi mengungkapkan bahwa kali ini MTQ dilaksanakan secara daring, hal tersebut karena kondisi pandemi Covid-19 yang belum mereda. Meskipun dilakukan secara daring, dirinya mengaku penyelengaraan berjalan sesuai dengan keinginan. Karena kondisi Covid-19 maka MTQ dilakukan secara daring dan menjadi penyebab tidak adanya juara umum.

“MTQ ke VI ini dilakukan secara online guna memastikan keselamatan para peserta dan panitia penyelengara, tidak ada kendala karena semuanya dipersiapkan secara baik. Dan tak ada juara umum karena dilakukan secara online,” ujar Saifi.

Berjalan secara daring dan tidak adanya juara umum membuat nuansa MTQ kali ini berbeda, Jusman, salah seorang peserta MTQ mengatakan bahwa perlu peningkatan jaringan karena bisa berpengaruh kepada penilaian dewan juri, serta pengumuman juara umum juga bisa meningkatkan daya saing masing masing daerah.

“Jaringan, kadang video yang diterima secara online patah patah jadi perlu server sendiri untuk penilaian, dan juara umum juga penting agar meningkatankan daya saing setiap daerah,” ungkap Jusman.(/sop/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.