DPRD Kabupaten Paser Dukung Bertani Dengan Teknologi Modern

Achmad Awal

Foto Istimewa.

Paser, helloborneo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Paser dukung mendukung terobosan bertani dengan teknologi modern yang dibarengi meningkatnya produksi pertanian.

“Kami dukung terobosan dari sebelumnya bertani secara tradisional (konvensional) perlahan dengan teknologi modern, sehingga panen minimal dalam setahun bisa dua sampai tiga kali,” ujar Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Paser Edwin Santoso ketika dihubungi helloborneo.com di Paser, Sabtu.

Ia sangat sekolah lapangan (farm field day /FFD) sebagai penerapan inovasi teknologi pertanian, dan kegiatan tersebut dapat terus berlanjut, tidak berhenti sampai beberapa pertemuan dan tidak hanya satu atau dua tempat saja.

“Kami juga minta dinas terkait bisa memberikan pelatihan kepada PPL untuk belajar bagaimana mengembangkan teknologi pertanian di daerah,” kata politisi PKB dan Ketua Karang Taruna Desa Senaken tersebut.

Dinas Pangan Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Paser, berupaya meningkatkan produksi beras lebih dari 30 ribu ton. Namun untuk mencapai itu, diperlukan upaya dan dengan didukung penyediaan fasilitas dan sarana penunjang pertanian seperti jalan tani, alat pertanian, embung hingga pintu air.

“Usulan para petani sudah kami tampung, kami usahakan ada di perubahan APBD untuk jalan pertanian,”  jelas Edwin Santoso.

Sekolah lapangan (farm field day /FFD) sebagai penerapan inovasi teknologi pertanian, dilaksanakan di Desa Suatang Keteban, Kecamatan Pasir Belengkong, beberapa hari lalu.

Kegiatan yang diikuti empat kelompok tani tersebut tentunya sangat bermanfaat, bagaimana mendapatkan pengetahuan baru guna meningkatkan produksi pertanian baik secara kualitas dan kuantitas.

Hari temu lapang jadi salah satu upaya yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan taraf kesejahteraan petani. Diharapkan ada perubahan perilaku petani yang semula secara tradisional yang berpola, menjadi petani yang lebih modern berkelanjutan.

Kegiatan tersebut jadi salah satu metode pemberdayaan petani melalui pertemuan antar petani, peneliti, dan penyuluh untuk saling tukar menukar informasi tentang teknologi pertanian. Sehingga pengetahuan dan keterampilan meningkat dalam mengenali potensi, menyusun rencana usaha, mengidentifikasi serta mengatasi permasalahan. (adv/bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.