Poso Energy Uji Coba Teknologi Padi Sawah Apung

Tun MZ

Demplot padi sawah apung oleh PT Poso Energy seluas 0,5 are (50 meter persegi) di Desa Buyumpondoli, Kabupaten Poso, Sulteng. (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Demplot padi sawah apung oleh PT Poso Energy seluas 0,5 are (50 meter persegi) di Desa Buyumpondoli, Kabupaten Poso, Sulteng. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Poso, helloborneo.com – Pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso 1 dan PLTA Poso 2, PT Poso Energy, menginisiasi uji coba pemanfaatan teknologi padi sawah apung di lahan bekas sawah yang terendam air di Desa Buyumpondoli, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Uji coba penanaman padi sawah apung dengan benih varietas superwin dimulai sejak Juni 2021 di lahan percontohan seluas 0,5 are atau 50 meter persegi menggunakan 18 rakit berukuran masing-masing satu kali tiga meter. Panen dilakukan 115 hari setelah tanam.

“Ini adalah demplot atau percontohan bercocok tanam dengan metode padi apung. Ini adalah pemikiran kami bahwa di area-area riparian atau area-area yang tergenang maka secara teknologi itu masih bisa kita manfaatkan dengan bercocok tanam, salah satunya adalah bercocok tanam padi,” jelas Agus Syamsi Koordinator Enviromental, CSR & Forestry PT Poso Energy dalam kegiatan panen padi apung itu, Selasa (12/10).

Agus menjelaskan dari luas penanaman setengah are diperoleh hasil panen sebanyak 31,9 kilogram gabah kering panen (GKP). Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Poso, memperkirakan bila penanaman di luasan satu hektare, hasil panen dengan teknologi padi apung tersebut dapat mencapai 6,38 ton per hektare, di atas produktivitas rata-rata kabupaten Poso sebanyak 5,4 ton gabah kering panen per satu hektare.

“Sekiranya petani berminat untuk melakukan penanaman dengan metode padi apung di lahan mereka yang tergenang, ini tentu akan kami respon. Akan kami lakukan pembinaan, pendampingan support terutama awal ketika mereka mulai menanam,” ujar Agus yang menjanjikan, pihaknya akan memberikan dukungan bagi petani yang berminat menerapkan model penanaman padi apung tersebut.

Padi sawah apung merupakan kegiatan menanam padi di atas rakit yang terbuat dari bambu yang mengapung di atas air. Uji coba penanaman padi apung di latar belakangi situasi di mana banyak lahan persawahan di sekitar tepian Danau Poso tidak lagi dapat diolah petani sejak naiknya muka air Danau Poso. Tingginya permukaan Danau Poso tersebut diduga sebagai dampak dari operasi bendungan PLTA Poso 1.

Data Dinas Pertanian Kabupaten Poso (5/10) menyebutkan setidaknya 226 hektare sawah terdampak.

Teknologi Padi Sawah Apung

Samuel Purese, Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Pamona Puselemba, menilai masa depan penerapan teknologi padi sawah apung di tepian Danau Poso itu bergantung pada kesediaan petani untuk menerapkannya. Diakuinya dibutuhkan kerja keras penyuluh pertanian untuk menyosialisasikan teknologi padi sawah apung tersebut kepada petani yang telah sekian lama menanam padi langsung di atas lahan sawah.

“Kami memang sebagai penyuluh memang untuk mengubah itu tidak semudah apa yang kita bayangkan karena selama ini kami sebagai penyuluh untuk merubah secara seratus persen petani yang ada ini tidak seperti membalik telapak tangan,” kata Samuel Purese.

Kepala Desa Buyumpondoli, Karnius Montolu (64 tahun), berpendapat masih perlu upaya kuat untuk menyakinkan petani untuk menerapkan teknologi padi apung di lahan sawah yang tergenang. Hal itu terutama dikarenakan pola tanam turun temurun para petani yang terbiasa mengolah lahan sawah dengan memanfaatkan alat mesin pertanian mulai dari pembajakan sawah dengan traktor hingga pemanfaatan alat mesin pertanian untuk pemanenan padi.

Karnius Montolu mengatakan terdapat sekitar 40 hektare areal persawahan milik 26 keluarga di Buyumpondoli yang terdampak oleh luapan air danau sejak 2018.

“Sejak Poso Energy ini melakukan penutupan air yang keluar sehingga mengakibatkan airnya naik di seluruh Pamona Bersaudara (meliputi 4 kecamatan) Danau Poso, kurang lebih –sejak- 2018 sampai sekarang ini,” ungkap Karnius yang mulai menjabat sebagai kepala Desa Buyumpondoli sejak 2018.

Di desa itu, luapan air danau merendam sawah yang berjarak hingga 500 meter dari tepi danau. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.