Hasil Survei 86,6% Masyarakat Indonesia Punya Antibodi Covid-19

Tun MZ

Warga mengantre untuk menerima vaksin COVID-19 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, pinggiran Jakarta, Selasa, 8 Februari 2022. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)
Warga mengantre untuk menerima vaksin COVID-19 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, pinggiran Jakarta, Selasa, 8 Februari 2022. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)

Jakarta, helloborneo.com – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) menemukan sebanyak 86,6 persen penduduk Indonesia sudah memiliki kekebalan atau antibodi terhadap virus Sars CoV-2. Temuan tersebut merupakan hasil survei serologi yang dilakukan pada November-Desember 2021. Survei ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kekebalan masyarakat Indonesia yang sudah memiliki antibodi terhadap Sars CoV-2.

“Jadi ini angka yang besar. Meskipun memang memiliki antibodi terhadap Sars Cov-2, bukan berarti mereka ini tidak bisa terinfeksi,” ujar tim peneliti FKM UI Iwan Ariawan di Jakarta.

Namun, menurut Iwan, meski mereka telah memiliki antibodi, tetapi kemungkinan terinfeksi masih terjadi, walaupun risiko sakit parah atau meninggal akan jauh berkurang.

Lebih lanjut Iwan menjelaskan pada periode waktu yang sama juga diperoleh hasil bahwa sebanyak 73,9 persen masyarakat yang belum divaksin, ternyata sudah memiliki antibodi Sars CoV-2. Pihaknya menduga bahwa antibodi tersebut diperoleh dari infeksi COVID-19, tetapi yang bersangkutan tidak menyadari telah terinfeksi virus corona.

Selain itu, dari survei ini juga diketahui bahwa sebanyak 71,6 persen anak-anak sudah mempunyai antibodi Sars CoV-2 meskipun mereka belum mendapatkan imunisasi COVID-19.

“Kalau kita lihat ternyata meskipun memang proporsi yang memiliki antibodi lebih banyak pada umur produktif, tapi kalau kita anak-anak pun itu proporsi yang sudah memiliki antibodi sudah tinggi. Bahkan pada kelompok anak yang belum divaksin anak-anak 71,6 persen memiliki antibodi terhadap Sars Cov-2,” jelasnya.

Dalam survei ini juga diketahui bahwa tingkat perebakan virus COVID-19 sudah menyebar di seluruh provinsi di Indonesia, baik itu di Jawa-Bali, maupun di luar Jawa-Bali.

Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang digunakan untuk mengukur tingkat kekebalan terhadap virus Sars CoV-2 di populasi adalah Elecsys Anti-SARS-CoV-2 yang dibuat oleh Roche. Survei ini dilakukan di wilayah aglomerasi sembilan provinsi, 47 kabupaten/kota dan wilayah non-aglomerasi 25 provinsi 53 kabupaten/kota.

Tim Peneliti FKM UI, Farid, menjelaskan sebenarnya target sampel yang ingin diteliti pada wilayah aglomerasi mencapai 514 desa/kelurahan dengan 10.280 atau 20 penduduk per desa atau kelurahan. Sementara itu target sampel untuk wilayah aglomerasi adalah 580 desa/kelurahan, dengan total target sampel sebanyak 11.600 penduduk. Namun, target tersebut tidak tercapai sepenuhnya karena berbagai kendala di lapangan.

“Kalau kita lihat total target 10.280 di wilayah aglomerasi, kita berhasil mengumpulkan data yang siap dianalasis 9.541 atau sekitar 92,8 persen. Lalu di wilayah aglomerasi sekitar 93,6 persen,” ungkap Farid.

Lebih jauh, Farid menjelaskan pendekatan yang dilakukan dalam melakukan penelitian tersebut adalah dengan tidak memilih langsung dari total jumlah penduduk yang datanya disediakan oleh Dukcapil. Namun, pihaknya memilih sampel secara bertahap agar lebih efisien dari segi waktu penelitian.

“Sehingga kita memilih pendekatan klaster sampling yang kita stratifikasi berdasarkan wilayah aglomerasi dan non aglomerasi, dan pada saat kita memilih, kita mengembangkan peluang terpilihnya desa, atau kelurahan. Desa/kelurahan yang mempunyai penduduk lebih banyak , mempunyai peluang terpilih lebih besar dibandingkan desa/kelurahan yang penduduknya sedikit,” jelasnya.

Dilakukan Secara Berkala

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil survei serologi ini penting dilakukan sebagai basis pengambilan kebijakan untuk pengendalian pandemi COVID-19 di Tanah Air ke depannya. Maka dari itu, pemerintah pun akan melakukan penelitian tersebut secara berkala.

“Jadi, kenapa ini perlu? karena ini akan dipakai oleh pemerintah sebagai dasar kebijakan berbasis bukti atau evidence policy, ke depannya kita seperti apa, baik policy mengenai vaksinasi, policy mengenai PPKM, dan policy lainnya terkait pandemi, akan kita buat berbasis data ini,” kata Budi.

“Rencana kami survei ini akan kita lakukan minimal enam bulan sekali. Jadi pertengahan tahun ini akan kita adakan lagi untuk bisa melihat perkembangan dari kondisi kekebalan terhadap virus Sars Cov-2 di Indonesia,” tambahnya. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.