WHO: Seperti Covid-19, Dunia Butuh Vaksin Tuberkulosis

Tun MZ

Seorang dokter (kiri) menghibur pasien tuberkulosisnya di poliklinik Persatuan Melawan Tuberkulosis di Jakarta, 4 April 2011. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
Seorang dokter (kiri) menghibur pasien tuberkulosisnya di poliklinik Persatuan Melawan Tuberkulosis di Jakarta, 4 April 2011. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

Yogyakarta, helloborneo.com – Tuberkulosis (TB) telah menyebar di seluruh dunia dan menjadi salah satu penyakit paling mematikan. Negara-negara dan para ahli di seluruh dunia, ditantang untuk segera menemukan vaksin, sebagaimana yang dilakukan untuk mengatasi COVID-19.

Penegasan itu disampaikan Sekretaris Jenderal organisasi kesehatan dunia WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus ketika berbicara secara daring dalam pertemuan pertama Kelompok Kerja Kesehatan G20.

“Pendanaan untuk riset pengobatan TB setidaknya harus digandakan untuk segera menemukan metode baru perawatan, termasuk vaksin. Untuk mengintensifikasi pengembangan vaksin, belajar dari pandemi COVID-19, WHO berencana akan menyelenggarakan pertemuan tinggkat tinggi, akhir tahun ini,” kata Ghebreyesus, Selasa sore (29/3) waktu Indonesia.

Pertemuan pertama Kelompok Kerja Kesehatan G20, secara luring diselenggarakan di Yogyakarta, 28-29 Maret 2022. Pembahasan mengenai TB merupakan sesi tambahan, yang diselenggarakan mengingat pentingnya kerja sama global menghapus penyakit ini pada 2030.

Ghebreyesus menekankan, penanganan TB secara global dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami peningkatan. Penyakit ini, ujar dia, membunuh lebih dari 1,5 juta orang setiap tahun dan berdampak kepada jutaan orang lainnya.

“Mengakhiri wabah ini masih menjadi prioritas bagi WHO, dan dalam beberapa tahun terakhir, kita membuat kemajuan yang cukup baik secara global. Lebih dari 66 juta orang telah menerima akses untuk layanan TB sejak tahun 2000,” kata Ghebreyesus s.

Namun, Ghebreyesus juga menambahkan, capaian global dalam penanganan TB terganggu oleh kondisi yang tidak menguntungkan, khususnya terkait pandemi COVID-19.

“COVID-19 telah membalikkan capaian yang telah diperoleh selama bertahun-tahun, dan menggangu layanan untuk mencegah, mendeteksi dan merawat pasien TB di banyak negara,” ujarnya.

WHO melaporkan, pandemi saat ini telah menaikkan kembali kematian akibat TB untuk pertama kalinya, dalam lebih satu dekade. Selain itu, faktor lain yang menyumbang kondisi itu yaitu konflik di Afghanistan, Ethiopia, Syiria, Ukraina, dan Yaman. Konflik, kata Tedros, telah menjadi ancaman bagi penderita TB untuk mengakses layanan. Seluruh tantangan ini, menjadi ancaman tersendiri bagi dunia untuk mencapai target penghapusan TB yang sudah ditetapkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

“Untuk kembali ke jalur yang benar, kita membutuhkan kepemimpinan yang kuat di negara-negara yang memiliki kasus tinggi dan juga dari komunitas internasional. Salah satu tantangan utama yang kita hadapi, adalah anggaran yang tidak mencukupi,” lanjut Ghebreyesus.

Dalam catatan WHO, anggaran penanganan TB yang ditetapkan 13 juta dollas AS, saat ini baru dipenuhi kurang dari setengahnya. Karena anggaran adalah investasi penting dalam penanganan TB, Ghebreyesusmendorong peningkatan pendanaan di masing-masing negara. Meski dia memahami, kemampuan setiap negara berbeda, apalagi setelah menangani pandemi COVID-19 dalam dua tahun terakhir.

Bagi negara-negara yang keuangannya terbatas, akan dibutuhkan dukungan global dalam jangka pendek dan menengah. Tedros mendorong negara-negara G20 untuk melakukan investasi lebih besar pada bidang yang menyelamatkan kehidupan, dibanding membelanjakan uang pada teknologi yang merusak dan membunuh.

Berbicara dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membenarkan apa yang disampaikan Ghebreyesus.

“Pandemi telah melemahkan sistem kesehatan dan meningkatkan angka kematian akibat TB untuk pertama kalinya dan memundurkan upaya bertahun-tahun dalam menghapus TB,” ujarnya.

Karena itulah, dalam kerangka Presidensi G20 tahun ini, kata Budi, Indonesia mempromosikan penguatan arsitektur kesehatan global. Indonesia juga menganjurkan dikembalikannya penerapan layanan TB melalui tiga langkah.

Pertama, negara-negara harus meningkatkan kembali pengawasan TB dan perbaikan manajemen sistem informasi kesehatan. Budi meyakinkan, penyusunan data secara digital akan lebih baik dibandingkan sistem saat ini. Dengan data digital, pengecekan dapat dilakukan dari fasilitas kesehatan paling bawah hingga ke tingkat nasional.

Kedua, kata Budi, dunia juga perlu meningkakan dan mengefisienkan sistem diagnostik baru, obat baru, pola perawatan serta pencegahan TB, dan pendekatan inovatif yang memaksimalkan hasilnya.

“Kita harus berinvestasi dengan cukup dan berkelanjutan dalam riset, peningkatan kapasitas, transfer teknologi, vaksin yang lebih baik, pengobatan, dan diagnosa untuk TB. Seperti dalam COVID-19, pengobatan dan vaksin harus kita dorong lebih keras untuk TB,” tambahnya.

Karena dunia menetapkan target bersih dari TB pada 2030, Budi menegaskan vaksin sudah harus tersedia setidaknya pada 2025.

Menkes juga mengingatkan, investasi global dalam merespon TB dan riset saat ini masih kurang. Hal itu membuat 30 persen orang dengan TB, tidak dapat mengakses sistem jaminan kesehatan dan tidak dapat dirawat.

Dengan meningkatkan kerja sama global dan kemitraan multilateral, kata Menkes, dunia dapat mengembangkan upaya pemeriksaan, pengobatan, vaksin dan sistem pengawasan TB dengan lebih baik. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.