Kabupaten Paser Berpotensi Banjir Rob

TB Sihombing

DPRD Kabupaten Paser bahas permasalahan banjir (TBS)

Paser, helloborneo.com – Kabupaten Paser berpotensi banjir Rob atau banjir pasang surut air laut karena ketinggian permukaan air laut di daerah itu lebih tinggi daripada hulu dengan daerah hilir Sungai Kandilo di Muara Pasir telah terjadi pendangkalan.

“Pendangkalan sangat luar biasa, sangat-sangat berpotensi terjadi banjir Rob,” ujar Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Paser, Hendrawan Putra ketika ditemui helloborneo.com di Paser, Jumat.

Bencana banjir masih jadi persoalan di Kabupaten Paser, tingginya curah hujan, meluapnya air drainase, dan dangkalnya sungai, sehingga air akan tinggi ketika pasang menjadikan banjir tidak terhindarkan jika tidak ada penanganan yang baik.

Berdasarkan hasil penelitian yang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), daerah hilir Sungai Kandilo di Desa Muara Pasir kedalamannya hanya 1,5 meter, sementara idealnya kedalaman 10 meter.

Dengan adanya pendangkalan Sungai Kandilo di daerah hilir, anggaran penanganan disediakan senilai Rp3 miliar menurut dia, nilai tersebut tidak cukup untuk mengatasi persoalan banjir dan legislatif (DPRD) meminta agar dapat diakomodir melalui Pokir (pokok-pokok pikiran).

“OPD (organisasi perangkat daerah) berharap bisa masuk dan selaras dengan RPJMD (rencana pembangunan jangka menengah daerah),” ucapnya.

Namun sebelum dimasukkan dalam Pokir, DPRD meminta agar data teknis secara detail, khususnya daerah tangkapan air, sehingga setelah terdata kekurangan tangkapan air dapat dicarikan solusi melalui Pokir.

“Bisa kami masukkan dalam Pokir. Selama ini anggota DPRD tidak pernah memperhatikan itu, pemerintah kabupaten tidak menyerahkan data DPRD. Agar kiranya bisa saling berkoordinasi, mana data tangkapan air dan beberapa hal teknis lainnya,” jelas dia.

Ketua Komisi III DPRD Paser, Edwin Santoso, mengatakan perlu adanya solusi konkrit dari pemerintah kabupaten dan harus segera berkoordinasi antara pemangku kebijakan dalam penangan banjir khususnya di Kecamatan Tanah Grogot.

“Kami ingin adanya solusi konkrit dalam penanganan banjir, beberapa titik wilayah setelah kami sidak masih ditemukan drainase yang menuju Sungai Kandilo tidak berfungsi lagi,” tambahnya.

Beberapa wilayah yang menjadi titik terparah akibat banjir yakni, Jalan Senaken, Cokro Aminoto, dan daerah dekat Masjid Agung Nurul Falah tegas dia, drainase kurang efektif karena jalurnya yang berliku tidak langsung menuju sungai.

“Drainase di Desa Senaken saja jalurnya belok sana sini, kalau bisa dibuat langsung menuju ke sungai,” ujarnya.

Perlu penanganan serius dari Pemerintah Kabupaten Paser untuk mengatasi persoalan banjir, mengingat apabila semakin bertambahnya jumlah penduduk dinilai akan lebih sulit mengatasi permasalahan tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Paser kata Politisi PKB tersebut, harus betul-betul serius menangani permasalahan banjir, apalagi penduduk semakin meningkat sehingga padat yang nantinya akan sulit untuk ditangani. (bp)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses