TB Sihombing

Paser, helloborneo.com – Legislator dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Paser Arlina, menyoroti dampak lingkungan atas kehadiran perkebunan kelapa sawit yang hingga kini masih ramai menjadi perbincangan di kalangan masyarakat setempat.
Keberadaan kebun kelapa sawit mempengaruhi kualitas air sungai sekitar menurut anggota Komisi II DPRD Kabupaten Paser tersebut ketika ditemui helloborneo.com di Paser, Jumat, serapan air akibat bahan dasar minyak goreng juga berdampak pada kekeringan di sejumlah daerah hingga mengalami kekeruhan air.
“Kehadiran kelapa sawit buat sumber air berkurang, karena serapannya yang lumayan banyak. Bahkan air terjun yang ada dekat kebun sawit sekarang sudah kering,” ujarnya.
Perlu ada solusi dari pemerintah kabupaten lanjut dia, untuk menanggulangi guna mencegah terjadinya kekurangan air bersih, dan perlu analisa lagi tentang dampak lingkungan untuk kebun kelapa sawit.
“Meskipun itu juga menjadi mata pencaharian utama masyarakat,” tambahnya.
Adapun penanggulangan serta analisa, disarankan tidak hanya melalui anggaran pemerintah kabupaten, melainkan juga dari pihak swasta, mengingat pihak swasta merupakan pelaku atas adanya fenomena tersebut.
Kabupaten Paser memiliki hamparan kebun yang luas hampir di seluruh sepuluh kecamatan menurut dia, selain dampak dari kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit, dampak dari aktivitas pengerukan tambang batu bara juga mempengaruhi kualitas air.
“Selain harga sawit, isu itu juga harus jadi perhatian serius seluruh pihak terkait,” kata Arlina. (bp)

















