Dua Hari Ops Zebra Berjalan, Sudah 28 Pelanggar di Balikpapan Kena e-TLE

Kasatlantas Polresta Balikpapan Komisaris Ropiyani. (dok. helloborneo.com/RoyMS)

Roy MS

Balikpapan, helloborneo.com – Selama dua hari berjalan, Operasi Zebra Mahakam 2022 di wilayah Balikpapan sudah menjaring sebanyak 28 pelanggar lalu lintas. Seluruhnya dikenakan tilang elektronik atau electronic Traffic Law Enforcement (e-TLE).

Catatan tersebut dibenarkan Kasatlantas Polresta Balikpapan Komisaris Ropiyani, Rabu (5/10). Rata-rata pelanggar, kata Dia merupakan pengendara roda dua. Umumnya pengendara yang dikenakan sanksi tilang akibat melanggar ketentuan lampu isyarat lalu lintas atau traffic light.

“Umumnya (pelanggar) itu menerobos lampu merah. Pada hari pertama ada 13 yang ditilang, selanjutnya ada 15 tilang,” jelasnya.

Operasi Zebra Mahakam 2022 masih berlanjut hingga 14 Oktober mendatang. Ropiyani mengingatkan pengguna jalan untuk tertib dan mematuhi aturan lalu lintas.

Ada tujuh jenis pelanggaran yang mendapat atensi jajaran Satlantas Polresta Balikpapan selama operasi berlangsung. Beberapa di antaranya, tidak mengenakan helm, menggunakan HP sambil berkendara, pengendara belum cukup umur dan melawan arus.

“Dalam berkendara perlu menyesuaikan kendaraan dan kelengkapan pribadi serta memperhatikan safety riding. Utamakanlah keselamatan,” imbaunya.

Perlu diketahui, penindakan tilang elektronik di wilayah yang telah didukung prasarana e-TLE menjadi prioritas selama Operasi Zebra Mahakam 2022 berlangsung. Kota Balikpapan termasuk satu-satunya wilayah yang telah dilengkapi sarana e-TLE di Kalimantan Timur (Kaltim).

Dirlantas Polda Kaltim Kombes Sonny Irawan saat gelar Ops Zebra Mahakam 2022, Senin (3/10) lalu mengatakan, pengawasan secara mobile akan turut dilakukan oleh petugas di titik-titik rawan pelanggaran.

“Anggota akan dilengkapi kamera di helm maupun di badan. Jadi begitu mendapati adanya pelanggaran bisa dilakukan e-TLE,” ujarnya

Meski demikian, langkah edukasi dan imbauan kepada pengguna jalan tetap mendapat perhatian di wilayah yang belum didukung sarana e-TLE selama operasi berlangsung. Sonny ingin keberadaan anggota di lapangan bisa memberikan rasa aman dan nyaman berlalulintas di samping melayani pengguna jalan.

“Di wilayah yang belum bisa menerapkan e-TLE tetap melakukan edukasi pendekatan persuasif, yang terpenting kehadiran petugas untuk memberikan aman nyaman berlaluintas dan melayani masyarakat.” pungkasnya. (yor)





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.