Presiden China Xi Jinping Mungkin akan Hadapi Tantangan Terberatnya

VOA Indonesia

Presiden China Xi Jinping membungkuk selama sesi pembukaan Kongres Partai Komunis China ke-20 di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 16 Oktober 2022. (Foto: AFP/Noel CELIS)
Presiden China Xi Jinping membungkuk selama sesi pembukaan Kongres Partai Komunis China ke-20 di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 16 Oktober 2022. (Foto: AFP/Noel CELIS)

China, helloborneo.com – Presiden China Xi Jinping selama hidupnya telah mengalami dan selamat dari banyak cobaan hidup. Bertahun-tahun ia melewatkan masa remajanya dengan bekerja keras di desa setelah ayahnya dihukum. 

Ia berhasil merambah puncak kekuasaan dan melakukan kampanye anti-korupsi besar-besaran yang membuatnya dimusuhi banyak orang. Namun ketika ia akan meraih masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya, Xi mungkin akan menghadapi tantangan terberatnya. Ia harus membenahi masalah serius yang telah berkembang di China setelah empat dekade pertumbuhan ekonomi yang cepat, tak terkendali dan boros. Ia juga harus menertibkan perekonomian terbesar kedua dunia yang tidak lama lagi menjadi perekonomian terbesar di dunia. 

Para ahli mengatakan itu tidak akan mudah, dan Xi sendiri mungkin menjadi kendala terbesarnya. “China pada dasarnya telah mencapai puncak periode pertumbuhannya, sebagian besar didorong oleh utang. Akibatnya China akan mengalami kesulitan kecuali ia ingin mereformasi ekonomi dan ia tidak berencana melakukannya,” kata Andrew Collier, pakar ekonomi makro China yang berbasis di Hong Kong.

Di bawah kebijakan terbuka China selama empat dekade terakhir , ekonominya telah tumbuh 18 kali lebih besar – dari PDB $149,5 miliar pada tahun 1978 menjadi $17,7 triliun tahun lalu. Ini mencakup sekitar 18,5% dari perekonomian dunia. 

Sejak Xi berkuasa pada 2012, China tumbuh dua kali lipat, tahun lalu melampaui Uni Eropa. Tetapi banyak dari pertumbuhan itu yang tidak sehat, terutama di sektor manufaktur dan konstruksi, di mana pertumbuhan yang berlebihan telah menciptakan “kota-kota terlantar” dan infrastruktur yang tidak perlu. Ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menciptakan banyak utang di dalam negeri. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.