Lawan Perubahan Iklim, Ilmuwan Jerman Pulihkan Padang Lamun

Pemandangan bawah laut dari padang lamun Posidonia Oceanica di Laut Mediterania, sebagai ilustrasi. (Foto: AFP/University of Barcelona/Jordi Regas)
Pemandangan bawah laut dari padang lamun Posidonia Oceanica di Laut Mediterania, sebagai ilustrasi. (Foto: AFP/University of Barcelona/Jordi Regas)

Jerman, helloborneo.com – Para ilmuwan di Jerman sedang berupaya memulihkan padang lamun di Laut Baltik sebagai langkah untuk melawan perubahan iklim. Padang tersebut saat ini menyusut dengan cepat akibat penurunan kualitas air, pemanasan global, dan penyakit.

Padang lamun sendiri adalah ekosistem laut dangkal yang menyimpan jutaan ton karbon. Menurut Pusat Penelitian Kelautan Geomar Helmholtz di Kiel, wilayah Baltik memiliki hampir 300 kilometer persegi tanaman tersebut, dan menyimpan sekitar tiga hingga 12 megaton karbon.

Lamun menyimpan karbon itu “selama berabad-abad hingga ribuan tahun”, Angela Stevenson, seorang peneliti pascadoktoral di pusat tersebut, mengatakan kepada Reuters. “Hal yang perlu dipikirkan di sini adalah melestarikan sistem ini, untuk memastikan bahwa CO2 tidak dipancarkan kembali dan selanjutnya menambah emisi ini.”

Di Kota Kiel fjord, Jerman, Stevenson dan rekan-rekannya telah melakukan uji coba pada sebuah lahan yang ditanami benih dan transplantasi tunas tunggal dari padang rumput alami di dekatnya, mengeksplorasi metode budidaya mana yang paling menjanjikan untuk memulihkan ladang lamun tersebut.

Tim juga menguji bagaimana tanaman dapat mengatasi panas dengan memaparkan tanaman ke gelombang panas dari generasi ke generasi untuk mencoba membuatnya lebih tangguh.

“Jika suhu naik hingga 26 derajat Celcius ke atas … selama berbulan-bulan, yang mungkin kita lihat di masa depan dengan perubahan iklim, maka itu benar-benar dapat menimbulkan masalah bagi seluruh sistem. Itu mungkin mati sepenuhnya,” kata Stevenson.

Eropa sendiri kehilangan sepertiga dari luas padang lamunnya antara tahun 1860-an dan 2016, menurut sebuah studi yang dilakukan pada 2019.

Lamun bukanlah senjata utama yang dapat menurunkan emisi karbon secara signifikan hingga mencapai angka nol, kata Stevenson. Bahkan jika Jerman berhasil memulihkan semua daerah yang kehilangan padang lamun, mereka hanya akan mengambil hingga 100 ton karbon dioksida per tahun, persentase yang sangat kecil dari target Jerman.

Jerman telah berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya lebih dari 50% pada tahun 2030 dibandingkan pada tahun 1990. Pemerintah juga bertujuan untuk menjadikan negara tersebut mencapai netral karbon pada tahun 2045. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.