Kejaksaan PPU: Ada Penyimpangan Retribusi di Pelabuhan Benuo Taka

Bagus Purwa

Pelabuhan Benuo Taka. (ESY)
Pelabuhan Benuo Taka. (ESY)

Penajam, helloborneo.com – Kejaksaan Negeri Penajam Paser Utara, menyimpulkan ada penyimpangan dana retribusi daerah yang dipungut dari kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Benuo Taka berlokasi di Kelurahan Buluminung, Kecamatan Penajam.

“Kami telah lakukan penyidikan dan pemeriksaan saksi, disimpulkan ada penyelewengan dana retribusi bongkar muat di Pelabuhan Benuo Taka,” jelas Kepala Kejaksaan Negeri Penajam Paser Utara Faisal Arifuddin di Penajam.

“Kami juga sudah tetapkan dua orang tersangka atas dugaan penyimpangan pungutan retribusi pelabuhan itu,” tambahnya.

Surat perintah penyidikan menyangkut dugaan penyelewengan dana pungutan retribusi bongkar muat di Pelabuhan Benuo Taka diterbitkan pada 2023, lanjut dia, setelah mendalami perkara pelabuhan tersebut mantan Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Benuo Taka berinisial HY ditetapkan sebagai tersangka.

Kemudian Kepala Bagian Keuangan Perumda Benuo Taka berinisial KA juga ditetapkan sebagai tersangka atas kasus Pelabuhan Benuo Taka itu.

Tim penyidik menemukan pendapatan daerah berkurang dari sektor pungutan retribusi Pelabuhan Benuo Taka Rp2.247.934.259, kerugian negara itu terjadi saat pelayanan retribusi bongkar muat barang dan jasa pelabuhan ditangani Perumda Benuo Taka pada 2021.

Dugaan penyimpangan dana retribusi daerah di pelabuhan milik Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara itu terjadi selama enam bulan pada 2021, jelas dia, saat Perumda Benuo Taka mengambil alih pengelolaan pelabuhan dari Dinas Perhubungan setempat.

Modus perkara Pelabuhan Benuo Taka tersebut, ia menimpali lagi, dana hasil pungutan retribusi pelabuhan digunakan tidak sesuai rencana kerja perusahaan dan tidak memiliki rencana bisnis, serta digunakan untuk kepentingan pribadi.

Kejaksaan Negeri Penajam Paser Utara tidak melakukan penahanan terhadap kedua tersangka karena masih berstatus sebagai terpidana kasus korupsi penyertaan modal Perumda Benuo Taka, yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2023.

Hingga kini HY dan KA masih menjalani hukuman tahanan atau penjara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin di Provinsi Jawa Barat.

“Jadi, kami tidak lakukan penahanan terhadap kedua tersangka itu, tapi apabila sudah dilimpahkan ke pengadilan akan dipindahkan sementara ke Lapas Samarinda untuk melancarkan proses persidangan, jelas Faisal Arifuddin. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.