Yor MS

Balikpapan, helloborneo.com – Kalimantan Timur mempunyai aplikasi deteksi dini karhutla (kebakaran hutan dan lahan) berupa aplikasi Lembuswana yang diluncurkan Kepolisian Daerah atau Polda setempat di Kota Balikpapan.
Peluncuran aplikasi Lembuswana oleh Polda Kalimantan Timur pada Kamis tersebut disaksikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kaltim dan Kodam VI/Mulawarman.
Infomasi yang diperoleh helloborneo.com menyebutkan, aplikasi itu merupakan sebuah terobosan dalam upaya deteksi dini potensi karhutla di wilayah Kalimantan Timur, yang diharapkan langkah penanganan dan penanggulangan dapat dilakukan sesegera mungkin.
Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor menyampaikan, risiko karhutla di daerah setempat tergolong rendah, dengan angka nol persen dalam dua tahun terakhir.
Tinggi rendahnya risiko karhutla di Kaltim, menurut dia, cukup bergantung pada fenomena alam. Risiko akan terbilang menurun pada saat menghadapi fenomena La Nina seperti sekarang, sebaliknya risiko akan meningkat ketika menghadapi fenomena El Nino.
“TNI-Polri sangat luar biasa dalam mengantisipasi terjadinya karhutla. Dalam simulasi aplikasi Lembuswana sampai sekarang memang terpantau tidak ada,” ucapnya.
Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Herry Rudolf Nahak menerangkan, aplikasi yang diluncurkan tersebut telah dilengkapi fasilitas maping hotspot yang akurasinya tinggi.
“Melalui aplikasi itu, baik Gubernur, Polda dan Pangdam bisa memantau setiap hari di mana ada hotspot. Jadi kami bisa interfensi langsung, dari saya turun ke Kapolres, lanjut ke Kapolsek untuk segera mengecek lokasi titik api,” jelasnya.
Di tahap awal, aplikasi ini hanya dapat diakses oleh berbagai instansi atau komunitas yang berkaitan dengan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Dari segi teknologi, aplikasi Lembuswana didukung oleh empat satelit yang dapat menampilkan citra kondisi riil secara berkualitas.
Meski demikian, keberadaan aplikasi Lembuswana tak berpengaruh langsung pada kecepatan waktu tanggap penanganan karhutla, sehingga perlu adanya sinergisitas antara TNI-Polri, pemerintah daerah serta seluruh elemen masyarakat.
“Semua harus bersinergi dan bersatu padu, kami tentu menginginkan upaya yang lebih cepat. Ini juga sangat tergantung dengan lokasi kejadian,” kata dia.
Herry Rudolf Nahak juga menyinggung masih minimnya sarana operasional untuk mendukung penanganan karhutla.
“Karena saat kejadian, bisa ada lokasinya yang dekat, ada juga yang jauh. Kemudian ada juga yang bisa dijangkau dengan mobil, dan ada juga yang bisa dijangkau dengan motor. Bahkan ada yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jadi, memang tergantung oleh keberadaan titik api,” jelasnya.
Panglima Kodam VI Mulawarman Mayjen TNI Teguh Pujo Rumekso menambahkan, dengan aplikasi Lembuswana akan memudahkan koordinasi antara pihaknya dengan kepolisian. Dengan begitu, seluruh stakeholder terkait dapat segera mengambil keputusan untuk tindak lanjut.
“Adanya aplikasi itu, baik Babinsa dan Babinkamtibmas di lapangan, bisa saling tukar informasi. Sehingga keterlibatan kita dilapangan jelas saling sinergi bukan hanya TNI-Polri, melainkan juga Pemerintah Daerah dan BPBD untuk saling merespon ketika ada titik api,” ujarnya.
Panglima Teguh Teguh Pujo Rumekso juga mengingatkan pentingnya reaksi cepat merespon titik api di lapangan.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengapresiasi inisiasi pembangunan aplikasi Lembuswana. KLHK melalui Direktur Penanganan Karhutla, Basar Simanullang membeber, hasil pemetaan secara nasional diketahui sampai saat ini masih ada 13 Provinsi yang tercatat sebagai daerah rawan karhutla.
Untuk wilayah Kalimantan Timur, menurut dia tergolong paling aman. Meski demikian, sinergitas baik Polda, Kodam serta di bawah Komando Gubernur, harus lebih antisipatif.
“Jadi Aplikasi itu mengartikulasikan arahan Presiden dalam rapat kerja nasional karhutla. Dalam mensinergikan pemangku kepentingan melalui aplikasi, sehingga di mana ada titik mudah di kontrol. Saya pikir ini harus didukung agar lebih mengefektifkan dalam mendeteksi dini,” jelas dia. (bp/hb)
















