NB Purwaniawan

Penajam, helloborneo.com – Anggota DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Zaenal Arifin menyebutkan kenaikan NJOP (nilai jual objek pajak) tanah memiliki potensi besar meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) kabupaten setempat.
Meningkatkan pendapatan asli daerah menurut anggota Komisi II DPRD itu di Penajam, Kamis (13/10), Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara harus menaikkan atau melakukan penyesuaian NJOP tanah.
Apabila nilai jual objek pajak tanah tersebut dinaikkan, maka bakal meningkatkan PAD dari sektor PBB-P2 (pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan), serta BPHTB (bea perolehan hak atas tanah dan bangunan).

Apalagi dengan ditetapkannya sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, yakni Kecamatan Sepaku menjadi kawasan inti Ibu Kota Negara atau IKN Indonesia baru bernama Nusantara, penyesuaian NJOP tanah menjadi sangat berpotensi tingkatkan pendapatan daerah.
Sejumlah kabupaten/kota di Indonesia jelas dia, setiap dua tahun sekali menaikkan NJOP untuk menyesuaikan kenaikan harga tanah seperti di Bogor dan Depok.
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara hingga kini belum pernah menaikkan atau melakukan penyesuaian NJOP tanah, sejak daerah berjuluk “Benuo Taka” itu menjadi daerah otonom pada 2002.

Padahal harga tanah terus mengalami kenaikan mengikuti harga pasar kata dia, tetapi di Kabupaten Penajam Paser Utara belum ada perubahan NJOP tanah sejak berdiri pada 2002.
Legislatif (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara mendorong pemerintah kabupaten setempat untuk melakukan penyesuaian nilai jual objek pajak tanah, sehingga dapat meningkatkan PAD melalui pungutan dari sektor PBB-P2 dan BPHTB.
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara jelas dia, hanya mengandalkan pendapatan dari dana bagi pemerintah pusat sektor Migas (minyak dan gas).
Sedangkan pendapatan asli daerah Kabupaten Penajam Paser Utara dari sektor pajak dan retribusi masih tergolong rendah, di bawah Rp100 miliar per tahun.
“Kami nilai peningkatan PAD Kabupaten Penajam Paser Utara terkendala NJOP tanah yang masih relatif rendah,” ujar Zaenal Arifin. (adv/log)
















