200 Hektare Lahan Pertanian di Penajam Kekeringan

Ari B

Kepala Dinas Pertanian PPU, Joko Dwi F.

Penajam, helloborneo.com – Sekitar 200 hektare lahan pertanian produktif di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mengalami kekeringan akibat masih jarangnya turun hujan di daerah itu.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara Joko Dwi Fetrianto saat ditemui helloborneo.com di Penajam, Jumat, mengatakan, kemarau panjang bisa membuat lahan sawah di wilayah Penajam Paser Utara kekeringan, karena pasokan air untuk mengairi sawah kurang.

Hampir seluruh lahan persawahan di Kabupaten Penajam Paser Utara menurut dia, mengandalkan pengairan tadah hujan, sehingga jika musim kemarau sawah-sawah petani rentan kekeringan.

Lahan Pertanian tersebut dipastikan gagal tanam karena mengandalkan hujan untuk pengairan, sampai saat ini hujan jarang mengguyur wilayah Penajam Paser Utara.

Para petani di Kabupaten Penajam Paser Utara kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mengairi lahan persawahan, sehingga ratusan hektare sawah mengalami kekeringan.

Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara menyatakan, telah melakukan antisipasi dengan meminta para petani tidak memanam padi selama musim tanam April-September 2018.

“Kami sudah melakukan antisipasi dini dengan memberikan imbauan kepada petani untuk tidak menanam padi saat musim kemarau, karena sulit mencari pasokan air sehingga bisa terjadi gagal tanam,” jelas Joko Dwi Febrianto.

Namun lanjut ia, sejumlah petani tetap nekat menanam padi setelah panen pada Maret 2018, musim tanam pada April-September masuk musim kemarau panjang.

“Pada musim tanam April-September 2018 masuk musim kemarau panjang, jadi kami sudah meminta petani tidak memaksakan mengolah sawah untuk ditanami padi,” ujar Joko Dwi Febrianto.

Kemarau panjang yang terjadi juga mengakibatkan lebih kurang 10.000 lahan pertanian produktif di wilayah Penajam Paser Utara hingga kini belum bisa digarap dan ditanami.

“Puluhan ribu lahan persawahan produktif tidak digarap mulai Agustus hingga September 2018, karena belum turun hujan yang membuat para petani belum bisa mengolah lahan pertanian mereka,” tambah Joko Dwi Febrianto. (bp/hb/Adv)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.