Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati Ajak Petani Terapkan Pola Tanam Pindah

Foto Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati.

Penajam, helloborneo.com – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara Sujiati mengimbau masyarakat petani padi untuk meninggalkan kebiasaan penanaman lama yaitu pola tanam benih langsung atau Tabela,demi mengantisipasi meningkatnya serangan hama di persawahan.

“Petani padi di Kabupaten Penajam Paser Utara sudah saatnya mengganti pola penanaman lama, tanam benih langsung agar tidak terjadi gagal tanam”. ujar Sujiati kepada helloborneo.com di kantor sekretariat DPRD PPU,Kamis.

Penanaman padi menggunakan system Tabela, menurut Sujiati, berpotensi tinggi meningkatkan serangan hama seperti tikus, wereng, sundep dan penggerek batang.

Pada periode tanam pertama tahun 2021, lanjut dia, sebagian masyarakat petani di desa gunung mulia di kecamatan babulu telah mengalami gagal tanam diakibatkan serangan hama. “Enam puluh persen lahan persawahan padi atau sekitar 150 hektare sudah mengalami gagal panen”.kata Sujiati.

Politisi partai Gerindra itu menerangkan dua penyebab utama gagal tanam di desa gunung mulia yaitu serangan hama dan jarak pemanfaatan lahan persawahan yang terlampau dekat. Seharusnya setelah panen lahan sawah diistirahatkan minimal satu bulan untuk pemulihan kondisi tanah.

Namun masyarakat di desa gunung mulia kebanyakan langsung kembali menanam dengan alasan ketersediaan air sehingga membuat struktur tanah menjadi kurang normal dan rentan diserang hama.

Sujiati mengajak seluruh masyarakat petani padi di Kabupaten Penajam Paser Utara untuk beralih ke pola tanam pindah atau biasa disebut jajar legowo. Ini bertujuan agar jarak tanaman tidak terlalu dekat sehingga mampu meminimalisir serangan hama seperti wereng, sundep dan penggerek batang.

“Tanah itu seharusnya diistirahatkan minimal satu bulan sebelum ditanami lagi. Tapi kemarin baru satu minggu setelah panen langsung ditanami kembali karena alasan sedang ada air. Dan hasilnya 60 persen atau sekitar 150 hektare lahan di gunung mulia termasuk milik saya sendiri mengalami gagal tanam”. tegas Sujiati. (adv/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.