Jakarta, helloborneo.com – Setelah pemerintah menggulirkan stimulus ekonomi senilai Rp24 triliun, dukungan lanjutan melalui peningkatan belanja pemerintah di paruh kedua 2025 dinilai sebagai faktor krusial dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, yang menyebut bahwa perbaikan daya beli masyarakat memang mulai tampak, namun belum cukup kuat untuk mengangkat pertumbuhan secara luas, terlebih di tengah tekanan deflasi dan perlambatan ekonomi global.
“Stimulus ekonomi awal memang penting—untuk transportasi, subsidi upah, bansos, dan diskon iuran. Tapi ini baru awal. Pemerintah perlu mendorong belanja negara yang sempat tertahan di awal tahun akibat realokasi anggaran,” ujar Fakhrul.
Deflasi sebesar -0,37 persen (month-to-month) yang tercatat pada Mei 2025 menjadi cerminan lemahnya permintaan domestik. Menurut Fakhrul, hal itu perlu segera direspons dengan akselerasi belanja negara agar tidak berdampak lebih jauh terhadap sektor riil.
“Kembalinya belanja pemerintah akan membuka lapangan kerja, terutama di sektor-sektor yang sebelumnya terpukul seperti konstruksi, perdagangan, dan perhotelan,” ujarnya.
Fakhrul menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah menantikan sinyal positif dari pemerintah. Belanja yang meningkat dan tepat sasaran bisa menjadi pemicu kembalinya arus modal asing ke Indonesia, di tengah ketidakpastian global.
“Minat investor—baik lokal maupun asing—terhadap Indonesia sebenarnya sudah tinggi. Tapi mereka menunggu komitmen belanja yang nyata. Siaran Pers APBN Kita berikutnya harus menunjukkan sinyal itu,” kata Fakhrul.
Dengan asumsi belanja negara kembali menguat dan mampu mendorong konsumsi serta investasi, Fakhrul memperkirakan nilai tukar rupiah bisa menguat ke bawah Rp16.000 per dolar AS, dan IHSG berpotensi naik ke level 7.750 dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, semua ini bergantung pada eksekusi belanja pemerintah yang transparan dan tepat sasaran.
“Belanja publik bukan sekadar nominal, tapi bagaimana cepatnya realisasi, tepatnya tujuan, dan besarnya dampak ekonomi yang ditimbulkan. Itu yang paling ditunggu pelaku ekonomi,” tutup Fakhrul. (ip/log)
















