Pasien COVID-19 Akan Diberi Obat Sesuai Hasil Pemeriksaan Puskesmas

Joko Sugiarto

Foto Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Andi Sri Juliarty.

Balikpapan, helloborneo.com – Pasien COVID-19 di Kota Balikpapan yang melakukan isolasi atau karantina mandiri di rumah masing-masing akan diberikan obat sesuai hasil pemeriksaan puskesmas, kata Kepala Dinas Kesehatan setempat Andi Sri Juliarty.

“Pasien isolasi mandiri biasanya akan diberikan obat sesuai dengan indikasi penyakit oleh puskesmas wilayah setempat,” ujar Andi Sri Juliarty ketika dihubungi helloborneo.com di Balikpapan, Minggu.

Pasien positif COVID-19 tanpa gejala akan mendapatkan obat secara symptom, kemudian untuk pasien dengan gejala ringan biasanya akan diberikan antibiotik untuk penanganannya.

Sedangkan bagi pasien positif virus corona dengan gejala sedang atau berat namun tidak masuk rumah sakit, maka akan diberikan antivirus.

Dengan demikian, Andi Sri Juliarty mengingatkan pasien COVID-19 yang manjalani karantina mandiri untuk tidak berbagi obat dengan sesama pasien terindikasi positif virus corona lainnya.

“Setiap orang punya gejala berbeda, serta mempunyai indikasi masing-masing, jadi tidak semua pasien obatnya harus sama. Mohon pengertian masyarakat. Jangan sampai membagi obat, kami sering menemukan hal seperti itu,” ungkapnya.

Hasil dari pelacakan (tracing) dari kluster keluarga tambah Juru Bicara Satuan Tugas COVID-19 Kota Balikpapan tersebut, kasus terkonfirmasi positif COVID-19 untuk anak-anak juga masih cukup tinggi.

Kendati demikian, anak-anak memiliki daya tahan tubuh lebih baik dibandingkan dengan orang dewasa.

“Untuk kasus anak-anak, daya imunnya lebih baik, sehingga nampak bisa bermain-main saja. Tetapi perlu diwaspadai oleh keluarga walaupun kondisi nampak sehat risiko penularan akan tetap sama,” jelas Andi Sri Juliarty.

Ia juga meminta masyarakat untuk bisa memahami, bahwa COVID-19 adalah penyakit menular, sehingga yang harus ditekankan adalah proses penularan dan anak-anak juga bisa menularkan.

“Penularan oleh anak-anak potensinya juga cukup besar. Sehingga jika anak positif, meski tidak bergejala, maka harus tetap melaksanakan isolasi mandiri. Kendati demikian, kami bersyukur sampai kini tidak ada kasus kematian di usia anak-anak. ” kata Andi Sri Juliarty. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.