Dinkes Penajam Imbau Penuhi Gizi Cegah “Stunting”

Bagus Purwa

Kantor Dinkes PPU.

Penajam, helloborneo.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, terus mengimbau dan menyosialisasikan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi dan kualitas makanan guna mencegah terjadinya kasus “stunting” pada anak.

“Masyarakat juga harus berperan aktif membantu pemerintah mencegah bayi mengalami penyakit gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi terlalu lama,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara Arnold Wayong ketika ditemui helloborneo.com di Penajam, Jumat.

“Menekan ‘stunting’ diperlukan sinergi pemerintah dengan masyarakat, jadi kami ajak masyarakat untuk bersama-sama menekan penyakit itu,” ujranya.

“Stunting” atau gangguan pertumbuhan yang ditandai kondisi pendek/cebol lanjut Arnold Wayong, adalah permasalahan kesehatan yang salah satu penyebabnya bisa dari faktor genetika, namun faktor lingkungan juga dinilai penting untuk mengubah genetika.

“Salah satunya diharapkan kesadaran para orang tua untuk memenuhi asupan gizi sejak janin masih dalam kandungan,” tegasnya.

Dinas Kesehatan atau Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara menemukan sedikitnya 58 anak yang terkena penyakit “stunting” atau pendek/cebol di 10 desa/kelurahan.

Sepuluh desa/kelurahan tersebut lanjut Arnold Wayong, merupakan daerah khusus penanganan “stunting” dari Kementerian Kesehatan, namun Dinkes tetap melakukan penanganan di 44 desa/kelurahan lainnya.

Sementara salah satu upaya pemulihan balita kurang gizi maupun balita gizi buruk tambahnya, adalah dengan PMT (pemberian makanan tambahan).

“Ada program PMT yang dibantu oleh pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, agar PMT tepat sasaran melibatkan petugas gizi di puskesmas dan kader kesehatan dalam pelaksanaannya,” jelasnya.

“Pemulihan gizi buruk sulit dilakukan pada anak balita yang disertai penyakit bawaan, tapi kami tetap memberikan penanganan terbaik,” ucap Arnold Wayong.

Ia menyatakan, pada 2016 ditemukan sebanyak 19 kasus gizi buruk, namum jumlah itu menurun menjadi sembilan kasus pada 2017 setelah dilakukan berbagai program penanganan dan terus berjalan hingga saat ini. (bp/hb)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.