Rencana Pengembangan RSUD Kabupaten Penajam Belum Ada Kejelasan

ES Yulianto

Penajam, helloborneo.com – Rencana pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Aji Putri Botung atau RSUD RAPB Kabupaten Penajam Paser Utara hingga kini belum ada kejelasan, padahal telah direncanakan pemerintah kabupaten setempat  sejak 2020.

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara telah mempersiapkan rencana pengembangan RSUD RAPB sejak 8 Maret 2020 menggunakan APBD 2020 senilai Rp2.341.350.000 untuk perencanaan, 

Kemudian 18 Juni 2020 kembali dilelang untuk keperluan belanja modal pengadaan konstruksi gedung rumah sSakit, serta penyusunan dokumen amdal senilai Rp597.245.000. Namun, hingga Oktober 2021 belum nampak realisasi dilapangan. 

Padahal menurut Direktur RSUD RAPB Kabupaten Penajam Paser Utara, Lukasiwan Eddy saat ditemui helloborneo.com di Penajam, Selasa, pengembangan RSUD dengan total Rp192.000.000.000 tersebut sangat membantu pihaknya mengurai beberapa permasalahan.

“Dengan dibangunnya gedung baru RSUD RAPB empat lantai, akan menjawab beberapa permasalahan yang ada saat ini,” tambahnya.

Lukasiwan Eddy menjelaskan beberapa permasalahan yang masih dihadapi yakni, kekurangan klinik rawat jalan karena selama ini masih menggunakan ruang perawatan VIP.

“Pertama kekurangan klinik rawat jalan, karena yang digunakan saat ini merupakan ruang perawatan VIP sebenarnya dari sisi pemanfaatan gedung yang lama,” ucapnya.

Selain klinik rawat jalan, di RSUD RAPB juga kekurangan ruang rawat inap dengan perkiraan kebutuhan dibandingkan jumlah pelayanan rawat inap. Saat ini hanya bisa mengakomodir 103 tempat tidur. 103 tempat tidur hanya bisa dinikmati oleh pasien kelas tiga sedangkan kelas dua hingga VIP tidak tersedia.

Ruangan penyimpanan obat juga dianggap tidak mempuni sehingga pemesanan obat dari luar daerah tidak banyak, dan seringtidak terlayani karena tempat penyimpanan terbatas.

Lukasiwan Eddy berharap rencana pemerintah kabupaten segera mewujudkan pengembangan pembangunan RSUD RAPB empat lantai tersebut. Apalagi menatap bakal banyaknya para pekerja di Ibu kota negara baru tentunya fasilitas bisa menjadi penunjang untuk menaikan tipe RSUD RAPB dari tipe C ke tipe B.

“Jadi, dengan dibangunnya gedung baru akan menjawab seluruh permasalahan, termasuk terkait ukuran ruangan dan  luas bangun untuk menjadi terstandarisasi,” ucapnya. (bp/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.