Antisipasi Banjir Susulan di Batu, Relokasi Warga di Lokasi Rawan Dilakukan

Tun MZ

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono meninjau lokasi banjir bandang di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu (VOA/Petrus Riski).
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono meninjau lokasi banjir bandang di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu (VOA/Petrus Riski).

Batu, helloborneo.com – Pemerintah akan merelokasi rumah warga yang berada di sekitar aliran sungai di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, yang dilanda banjir bandang pada 4 November lalu. Selain akan membangun kembali rumah warga yang hanyut oleh banjir, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi banjir susulan.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, memastikan penanganan banjir bandang di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, akan dilakukan dengan cepat dan terukur, dengan melakukan pembersihan material yang dibawa banjir bandang menggunakan sejumlah alat berat. Ini dilakukan untuk mengantisipasi datangnya banjir susulan, yang diprediksi akan terjadi sampai awal tahun depan.

Basuki mengatakan, akan membangun kembali rumah warga yang hanyut terbawa banjir bandang, maupun rumah yang harus direlokasi karena berada di pinggir aliran sungai.

“Kita menghadapi La Nina yang diprediksi puncak hujannya itu nanti sampai Januari-Februari, saya minta ini segera dibersihkan, dilebarkan. Saya minta masyarakat yang tinggal di bantaran ini, kita relokasi. Kalau yang rusak ringan, rusak sedang, berat, akan ditangani oleh Bu Wali Kota melalui BPBD, yang relokasi baik yang kena kemarin maupun yang harus relokasi karena tinggal di bantaran, saya akan buatkan rumahnya, tanahnya akan disiapkan oleh Bu Wali Kota dan Pak Kepala Desa,” kata Basuki Hadimuljono.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, menyebut terdapat delapan rumah warga Desa Bulukerto yang hanyut tersapu banjir, serta sejumlah lahan yang dimiliki warga. Pemerintah Kota Batu bersama pihak Desa sedang mendata kerugian yang diderita warga akibat banjir, dan menyiapkan lahan untuk relokasi rumah warga. “Untuk bisa memakai sebagian lahan tanah bengkok, atau tanah kas desa untuk tempat relokasi. Regulasi dan segalanya akan kami siapkan,” jelasnya.

Banjir bandang di Desa Bulukerto terjadi pada Kamis, 4 November 2021, diduga karena alih fungsi lahan dan hilangnya daerah resapan air. Hasil foto drone atau pesawat nirawak yang dilakukan Perum Jasa Tirta I selama lima hari terakhir, menunjukkan adanya perubahan tata ruang dan pemanfaatan lahan di kawasan hulu sungai Brantas, di Gunung Arjuno. Dari foto citra satelit, juga disebukan tutupan lahan di kawasan hulu yang menjadi daerah tangkapan air Sungai Brantas hingga di perbatasan Kota Malang, hanya berkisar 19-25 persen.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta 1, Raymond Valiant Ruritan, mengatakan banjir bandang yang terjadi merupakan kombinasi antara tingginya curah hujan, menumpuknya sedimentasi material batu dan kayu dalam waktu lama, serta perubahan pemanfaatan lahan di kawasan hulu.

“Menurut pendapat kami dari foto drone yang ada, sebagian besar kawasan di bagian hulu ini telah dibudidayakan untuk kegiatan masyarakat, sehingga dari foto yang kami peroleh dari droning selama lima hari terakhir, nampaknya memang ada perubahan tata ruang, perubahan pemanfaatan lahan. Juga kuat dugaan bahwa sedimen yang telah terendap di dalam jalur pematus alami, hasi erosi dan sedimentasi yang lama, itu ikut terangkut turun ke bawah.”

Foto drone milik Perum Jasa Tirta I juga menunjukkan kondisi yang sama di alur air yang lain, sehingga potensi terjadinya banjir bandang juga dapat terjadi di kawasan lain di hulu sungai Brantas.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, meminta semua kawasan hulu dan sungai kecil atau alur air diwaspadai, dengan melakukan pembersihan sedimen dan pelebaran sungai.

“Saya minta dicek semua ini. Kalau ini kemarin yang terjadi, ini bukan sungai tapi alur sungai atau krik istilahnya, yang tersumbat oleh sedimentasi, oleh kayu-kayu, sampah hutan itu, ada yang penebangan-penebangan di atas, ada longsoran, nutup ini (sungai kecil), tapi kan itu tidak ada pemadatan, itu alami. Begitu air lebih tinggi, lebih tinggi, lebih tinggi, jebol. Makanya untuk daerah-daerah lain di sekitarnya ini, saya minta dicek dengan drone, kalau ada sumbatan-sumbatan, dibuat alurnya,” jelasnya.

Warga Desa Bulukerto, Jumini, meminta pemerintah segera membantu mengatasi masalah banjir bandang ini, dengan membangun dan memperbaiki rumah warga yang rusak. Ia juga berharap ada bantuan untuk hilangnya lahan pekarangan tempat warga mencari nafkah yang terbawa banjir bandang.

“Moga-moga saja rumah saya sama pemerintah diperbaiki, terima kasih saya diberi sembako, semoga saya dapat bekerja kembali, rumah saya ini ya sudah rusak seperti itu, saya juga tidak punya apa-apa,” kata Jumini. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.