Blinken Peringatkan Rusia terhadap Agresi Terbaru di Ukraina

Tun MZ

Washington DC, helloborneo.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken pada Selasa (30/11) memperingatkan Rusia untuk tidak mengambil “tindakan eskalasi” terhadap Ukraina, dengan mengatakan “setiap agresi baru akan memicu konsekuensi serius.”

Berbicara kepada wartawan bersama Menteri Luar Negeri Latvia Edgars Rinkevics selama lawatannya ke Riga, Blinken mengatakan Amerika “sangat prihatin” dengan pergerakan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dengan Ukraina.

Blinken dan mitra-mitranya di NATO sedang membahas kekhawatiran tentang peningkatan personel pasukan Rusia itu dalam pertemuan tingkat menteri NATO di Riga. Blinken mengatakan ia akan menyampaikan lebih banyak hal setelah konsultasi tersebut.

Menjelang pertemuan tingkat menteri itu, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg meminta Rusia untuk mengurangi ketegangan di kawasan itu, dengan mengatakan peningkatan aktivitas militer itu “tidak beralasan dan tidak dapat dijelaskan.”

“Setiap agresi Rusia pada masa depan terhadap Ukraina harus dibayar dengan harga mahal dan memiliki konsekuensi politik dan ekonomi yang serius terhadap Rusia,” ujar Stoltenberg pada Senin (29/11).

Putin: “Bayangkan Jika Kami Kerahkan Senjata Hipersonik”

Sementara itu di Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (30/11) mengingatkan pasukan militernya mungkin terpaksa menanggapi perluasan infrastruktur militer Ukraina yang dipimpin oleh pihak Barat, jika “batas” itu dilanggar oleh NATO.

“Jika ada semacam sistem serangan terjadi di wilayah Ukraina, penerbangan dari Moskow ke Kyiv hanya sekitar 7-10 menit, dan 5 menit jika mengerahkan senjata hipersonik. Bayangkan saja,” ujar Putin.

Ia menambahkan bahwa pihaknya “harus membuat sesuatu yang serupa dengan mereka yang mengancam kami dengan cara itu. Kami dapat melakukannya sekarang.”

Pemimpin Rusia itu mengatakan militernya baru saja berhasil menguji rudal hipersonik berbasis laut yang baru, yang akan beroperasi pada awal tahun depan.

NATO Juga Bahas Krisis Migran di Perbatasan Belarus

Pembicaraan di Riga itu juga dilakukan ketika anggota-anggota NATO – Latvia, Lithuania dan Polandia – menangani krisis perbatasan dengan negara tetangganya, Belarus.

Uni Eropa menuduh Presiden Belarus Alexander Lukashenko mengerahkan ribuan migran, terutama yang berasal dari Timur Tengah, untuk melakukan perjalanan ke Belarus dan kemudian menyebrang ke Latvia, Lithuania dan Polandia untuk mengacaukan Uni Eropa. Uni Eropa mengatakan tindakan Lukashenko itu untuk membalas sanksi yang dijatuhkan terhadap pemerintahannya.

Blinken pada Selasa (30/11) mengatakan Amerika, dalam koordinasi dengan Uni Eropa, sedang mempersiapkan sanksi tambahan terhadap Belarus, atas apa yang disebutnya sebagai “serangan berkelanjutan terhadap demokrasi, hak asasi manusia dan norma-norma internasional.”

Menanggapi pertanyaan VOA, Blinken mengatakan ia dan Menteri Luar Negeri Latvia Rinkevics memusatkan perhatian “pada tindakan yang telah diambil Belarus, dalam hal menekan rakyatnya sendiri dan aspirasi demokrasi mereka, serta menggunakan migrasi sebagai senjata untuk berupaya menabur perpecahan dan destabilisasi di Eropa.”

“Kami, berkoordinasi erat dengan Uni Eropa, dan sedang mempersiapkan sanksi-sanksi PBB,” tambah Blinken pada wartawan. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.