Terlepas Varian Baru, Strategi COVID-19 Singapura Berhasil

Tun MZ

Patung Merlion di sepanjang area Marina Bay di Singapura. (Foto: AP)
Patung Merlion di sepanjang area Marina Bay di Singapura. (Foto: AP)

Singapura, helloborneo.com – Sewaktu Singapura mulai melaksanakan strategi hidup bersama dengan COVID-19, yang didukung oleh salah satu program vaksin terkemuka di dunia, negara kota yang kaya itu melihat ada lonjakan tingkat infeksi sehingga membuat banyak orang mempertanyakan apakah waktunya tepat untuk melaksanakan strategi itu.

Namun dengan jumlah infeksi yang kini menurun secepat peningkatannya, ada optimisme hati-hati di sana bahwa rencana yang diawasi luas itu telah membantu Singapura melewati krisis pandemi, meskipun ada temuan mengenai varian baru omicron yang mengkhawatirkan dan memberi pemahaman yang lebih baik mengenai tindakan apa yang efektif atau tidak.

“Saya kira COVID sekarang tampak seperti flu normal saja bagi semua orang,” kata Glacier Chong, sewaktu beristirahat dari berbelanja di kawasan Orchard Road yang populer di Singapura. Ia duduk-duduk di dekat air mancur sambil melihat orang lalu lalang dan mendengarkan lagu-lagu Natal dari pengeras suara besar yang berjajar di jalan-jalan. “Semua orang mulai terbiasa dengan itu; sepertinya jika Anda terjangkit COVID adalah hal biasa sekarang. COVID tampak seperti penyakit yang dapat disembuhkan,” lanjutnya.

Sebagian dari keyakinan itu bersumber dari data yang dikemukakan pemerintah Singapura. Dengan 94 persen populasinya yang memenuhi syarat telah divaksinasi dan 26 persen lainnya sudah mendapat suntikan penguat (booster), maka ketika jumlah orang yang terinfeksi meningkat, sekitar 99 persen tidak menunjukkan gejala atau menunjukkan gejala ringan saja. Ini berarti sistem layanan kesehatan mendapat tekanan tetapi tidak pernah kewalahan. Jumlah kematian meningkat tetapi tetap rendah, dan mayoritasnya adalah lansia dengan komorbid.

Singapura berhasil membuat begitu banyak orang divaksinasi dengan memastikan sedikit saja hambatan untuk vaksinasi, menambah kesulitan bagi yang tidak divaksinasi – seperti melarang mereka bersantap di restoran atau ke mal – dan meningkatkan keyakinan masyarakat terhadap pemerintah serta pendekatannya, kata Alex Cook, pakar statistik dan pemodelan penyakit menular di Fakultas Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di National University of Singapore.

“Mungkin pelajaran utama yang bisa diambil dari Singapura adalah membuat orang mudah mendapatkan vaksinasi, dan sulit untuk tidak divaksinasi,” ujarnya.

Pada awal pandemi, pusat bisnis dan perdagangan penting di Asia Tenggara ini berhasil mencegah penyebaran kasus virus corona di bawah sepuluh atau belasan selama hampir setahun dengan menerapkan lockdown sangat ketat

Dengan program vaksinasi yang berjalan lancar, tes dan pelacakan yang agresif, serta pedoman kesehatan dan keselamatan yang ketat, negara berpenduduk 5,5 juta orang itu percaya diri sewaktu memulai apa yang disebutnya “perjalanan transisi menjadi negara yang tahan COVID-19” pada Agustus lalu. 

Ini adalah bagian dari keputusan untuk mulai memperlakukan COVID-19 sebagai penyakit endemik, mengakui bahwa dalam jangka panjang mustahil untuk mengurangi kasus hingga nol dan bahwa sudah waktunya untuk perlahan-lahan mengizinkan orang dan bisnis memulai kehidupan normal mereka. (voa/tan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.