Investasi Kabupaten Berau Anjlok Sepanjang 2021

Nita Rahayu

(Ist)

Berau, helloborneo.com – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Berau mencatat, realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) anjlok sepanjang 2021.

Data DPMPTSP, tercatat triwulan pertama 2021 untuk PMA sebesar 955.302 dolar AS, PMDN sebesar Rp343,925 miliar, triwulan kedua PMA sebesar 1.212.100 dolar AS, PMDN sebesar Rp89,559 miliar rupiah, triwulan ketiga PMA 3.054.300 dolar AS dan PMDN sebesar Rp 60,393 miliar.

“Investasi PMDN Kabupaten Berau menempati peringkat ke-7 dari 10 kabupaten/kota,” ujar Kasi Pengendalian dan Pemantauan Investasi Penanaman Modal DPMPTSP Kabupaten Berau, Supratman ketika ditemui helloborneo.com di Berau, Rabu.

Dibandingkan 2020, PMDN Kabupaten Berau menempati tertinggi kedua. Di mana triwulan pertama PMA sebesar 1,6 juta dolar AS dan PMDN sebesar Rp1,88 triliun, triwulan kedua PMA sebesar 2,86 juta dolar AS dan PMDN sebesar Rp1,341 triliun, triwulan ketiga PMA sebesar 9,828 juta dolar AS dan PMDN Rp71,761 miliar.

“Angkanya memang merosot jauh dibandingkan 2020, padahal pada tahun itu pandemi baru mulai masuk dan sempat mengganggu beberapa perusahaan,” ungkapnya.

“Realisasi di beberapa triwulan awal dan kedua juga tidak ada yang menyentuh triliun, masih berkutat di angka miliar saja. Masih lebih baik tahun kemarin. Masih kalah dengan Bontang dan Balikpapan,” tambahnya.

Baik investasi PMA dan PMDN, totalnya ada sebanyak 49 proyek dengan berbagai sektor. Secara keseluruhan, investasi paling banyak terbagi menjadi dua golongan yaitu primer dan sekunder.

Sementara ini sektor primer yang masih unggul yaitu tanaman pangan dan perkebunan, lalu pertambangan, sementara sektor primer yaitu kehutanan, peternakan, dan perikanan.

Sedangkan untuk PMA secara keseluruhan juga didominasi pada tanaman pangan dan perkebunan, pertambangan dan industri makanan. Begitu juga dengan hotel dan restoran.

Selama 2021 di bidang peternakan dan perkebunan juga tidak kalah saing. Tetapi tidak begitu dengan sektor pariwisata. Di sektor pariwisata bahkan ada yang tidak beroperasi, tentunya berpengaruh pada nilai investasi dan target hingga Rp4 triliun per tahun.

“Untuk perusahaan baru belum ada. Jadi ini masih dari beberapa sektor perusahaan yang ada saja. Ada beberapa calon perusahaan namun masih mengurus perizinannya. Ada juga perusahaan yang sudah izin tapi tidak melaporkan investasinya,” jelasnya.

Pencapaian realisasi investasi berdasarkan dari perhitungan laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) secara online pada 2021. Untuk total realisasi investasi pada 2021 belum dapat keluar secara kolektif.

Sementara itu, untuk PMA masih sedikit sulit berharap, karena investor asing biasanya lebih tertarik pada Bontang, Balikpapan, dan Samarinda. Di Berau, investor asing bisa ditingkatkan dengan melirik daerah pariwisata. Seperti di Maratua banyak di dominasi investor asing yang berasal dari Jerman dan Malaysia.

“Kesulitan itu akan berpengaruh pada target jika tidak ada investor baru,” ucap Supratman.

Jika investor baru lebih banyak membuka lahan, maka realisasi juga bisa semakin tinggi. Adapun wacana sejak tahun 2020 akan memperhitungkan industri dengan modal minimal Rp50 juta. Jika dibantu dengan hal itu bisa jadi realisasi akan bisa tercapai cepat, tetapi membutuhkan kerja secara maksimal.

Kemudian, pihaknya sering menemui kendala berupa banyaknya perusahaan yang belum memberikan data Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) sesuai dengan anjuran dan jujur kepada DPMPTSP, sehingga bisa saja angka realisasi dikatakan lesu padahal di lapangan tidak terjadi seperti itu.

“Contoh saja, perusahaan tambang ada beberapa di Berau walaupun tidak terlihat jelas bahwa perusahaan itu ada, tapi yang melapor rutin hanya lima perusahaan saja, bisa menjadi kendala juga,” kata dia.

Pihaknya juga telah mencari cara merekap dengan benar, di mana perusahaan yang menjadi jangkauan mereka untuk realisasi investasi melalui lintas sektor yang terkait. Dan melaksanakan jemput bola dan bersurat pada perusahaan.

Ke depannya, sesuai dengan arahan pusat, jika dalam tiga kali diberi surat teguran hingga peringatan tetap tidak melapor, izin berusaha yang bersangkutan bisa saja dicabut.
Kendala lainnya ialah anggaran yang kurang, serta letak geografis Kabupaten Berau yang tidak bisa dijangkau dengan cepat. Karena kebanyakan perusahaan berada di perkampungan dan pedalaman. (bp/hb)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.