Tindak Tegas Pelanggar Jam Operasional Lebih Penting Ketimbang Fly Over

David P

Balikpapan, helloborneo.com – Dewan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Balikpapan turut memberi perhatian atas terulangnya kecelakaan lalu lintas (lakalantas) maut di simpang lima Muara Rapak, Balikpapan Utara pada Jumat (21/1) lalu. 

GMNI menuntut sikap serius oleh Pemerintah Kota dan jajaran Kepolisian di Balikpapan dalam menangani persoalan tersebut.

“Sebelumnya kami turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya terhadap para korban Kecelakaan di Muara Rapak, kami berharap ini menjadi yang terakhir kalinya. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi Pemkot dan Kepolisian Balikpapan,” selaku Ketua DPC GMNI Balikpapan Yosep Wahyudi Sitanggang melalui siaran pers yang diterima helloborneo, Sabtu (22/1) Malam.

Yosep menambahkan, Pemkot Balikpapan mestinya lebih mengoptimalkan penegakan Perwali Nomor 60 Tahun 2016 tentang Jam Operasional Kendaraan Berat. 

“Agar dapat memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang melanggar jam operasional kendaraan berat,” terangnya.

Dalam penindakan atas persoalan ini, menurut Yosep, idealnya bukan hanya dilakukan terhadap sopir, melainkan juga perusahaan. 

“Karena bisa saja sopir truk terpaksa melanggar karena tuntutan dari atasannya. Perusahan juga bisa lalai dalam pengecekan, apakah kendaraan tersebut layak dikendarai atau tidak”, tegasnya.

DPC GMNI Balikpapan juga menganggap perlunya Pemkot mempertimbangkan pembangunan fly over (jalan layang) atau jalur penyelamatan di kawasan tersebut. Meski hal tersebut bukan berarti menjadi langkah yang mendesak saat ini. 

“tapi terlepas daripada itu, maksimalkan saja dulu apa yang ada. Contohnya, penerapan jam operasional ini belum maksimal sama sekali,” tukasnya.(yor)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.