Balikpapan Zona Merah Lagi, Penularan Lebih Cepat, Dinas Kesehatan Sebut Beda Dengan Varian Delta

Roy MS

Balikpapan, helloborneo.com – Pemerintah Kota Balikpapan segera memperketat pembatasan-pembatasan kembali seiring dengan meningkatnya kasus aktif Covid-19 dalam beberapa hari terakhir. Kota Balikpapan bahkan disebut kembali masuk daftar zona merah Covid-19.

Langkah tersebut ditempuh sesuai hasil rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Balikpapan yang berlangsung di kantor Wali Kota, Rabu (2/2) Siang.

Meski demikian, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud memastikan status PPKM berdasarkan Instruksi Mendagri masih berada di level 1.

“Jelas ada pembatasan, walaupun tidak yang dramatis lah. Tujuannya menekan penularan yang lebih besar lagi. Lebih baik kita mencegah dari pada mengobati,” kata Rahmad kepada sejumlah pewarta di Balaikota.

Mengenai seperti apa pembatasan kali ini, kata Rahmad pihaknya segera menerbitkan Surat Edaran. Dalam surat tersebut nantinya memuat berbagai ketentuan antara lain, jam operasional tempat umum, pembatasan jumlah pengunjung, dan pemberlakukan protokol kesehatan (prokes) secara lebih ketat.

“Bukan berarti ditutup loh ya. Hanya ada pembatasan dan syaratnya juga setiap kegiatan ya prokesnya harus diperketat,” tegasnya.

Menurut catatan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, sampai dengan Selasa (1/2) jumlah kasus aktif Covid-19 sudah mencapai 107 kasus. Angka tersebut didominasi oleh klaster keluarga yang sebelumnya melakukan perjalanan baik dari Jakarta, Jawa hingga Bali.

Kepala DKK Andy Sri Juliarti mengakui penularan pada kasus-kasus tersebut begitu cepat, hanya berkisar antara satu hingga tiga hari. Dari 107 kasus, 7 di antaranya dirawat di rumah sakit dan sisanya hanya berupa gejala ringan,

“Keluhan spesifik tenggorokan sakit seperti teriris-iris, ini tidak nampak seperti delta,” katanya.

Menindaklanjuti tren tersebut, Pemerintah kembali membuka pusat karantina di Hotel Gran Tiga Mustika. Kembali wanita yang akrab disapa Dokter Dio itu mengungkap, sudah ada 34 pasien yang menjalani karantina di hotel berbintang tiga tersebut.

Melihat cepatnya penularan yang terjadi, Dio enggan berspekulasi mengenai adanya kemungkinan pasien yang terinveksi varian baru omicron.

“Kemungkinan ada, tapi kami tidak tahu karena harus ada hasil dari whole genome sequencing (WGS), hasilnya belum diterima,” pungkasnya. (yor)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.