Kondisi Jalan Depan SPBU Nipah-Nipah Penajam Picu Menurunnya Pendapatan

ES Yulianto

Pengawas Lapangan SPBU di Kelurahan Nipah-Nipah, Kabupaten Penajam Paser Utara, Dedi Wijaya (ESY)

Penajam, helloborneo.com – Kondisi jalan di depan SPBU Kelurahan Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, selain menjadi daerah rawan kecelakaan juga memicu menurunnya pendapatan pengelola SPBU itu.

Awal kesepakatan dengan Pemerintah Kabupate Penajam Paser Utara, bahwa jalan tersebut akan diselesaikan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setempat.

Pengawas Lapangan SPBU, Dedi Wijaya saat ditemui helloborneo.com di Penajam, Rabu mengaku, atas pekerjaan jalan yang tidak rampung tersebut membawa dampak buruk. Selain menjadi daerah rawan kecelakaan, pendapatan mengalami penurunan karena pembeli khawatir dengan akses jalan ke SPBU.

“Dengan kondisi jalan seperti ini, sangat berdampak untuk penjualan. Jadi penjualan menurun drastis 25-30 persen. Dari segi keamanan juga sering terjadi kecelakaan, sudah 4 kali mobil terperosok jalan depan,” ujarnya.

Kondisi jalan yang menjadi akses masuk ke SPBU kian hari kian mengkhawatirkan. Dijelaskan Dedi Wijaya saat terjadi hujan tanah terkikis hingga membuat kondisi sangat rawa kecelakaan.

“Kondisi jalan selama hujan ini terkikis terus, longsor. Makanya unit-unit mobil yang ingin mengantri melakukan pengisian khususnya dexlite jadi takut masuk SPBU saat bermuatan. Kondisi ini sangat dikeluhkan pelanggan. Terutama yang lintas. Mereka tidak tahu akses jalan keluar masuknya,” jelasnya.

Dari awal kesepakatan bahwa proyek perbaikan jalan didepan SPBU Kelurahan Nipah-Nipah akan menjadi tanggung jawab Dinas PUPR Kabupaten Penajam Paser Utara. Dari jarak tanah tertinggi sekitar tiga meter akan diuruk hingga ketinggian satu meter diatas bahu jalan telah disepakati bersama.

“Kemarin itu pertanggungjawaban Dinas PUPR, karena kesepakatannya seperti itu. Berhubung Kadisnya tersangkut KPK, jadi kami tidak tahu tindak lanjuti seperti apa. Jadi kami hanya menunggu. Perjanjian itu sudah diukur, sekitar satu meter di atas jalan. Jadi hanya sedikit lebih tinggi,” ucapnya.

Berdasarkan data yang bisa disebut Dedi Wijaya, pembelian Pertalite sebelumnya 24 ton per hari, sedangkan saat ini 15 ton per hari, kemudian untuk jenis Dexlite empat ton per hari kini hanya satu ton per hari. (bp)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.