Saring Kendaraan ODOL, Audit Perusahaan Angkutan Barang Terus Digencarkan

Roy MS

Balikpapan, helloborneo.com – Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Kaltim terus menggencarkan audit manajemen keselamatan transportasi angkutan barang ke berbagai perusahaan.

Terakhir, tepatnya Rabu (2/3) pagi, tim audit secara dadakan memeriksa PT Tiang Beton Balikpapan Ready Mix (BRM Group). Langkah tersebut merupakan satu di antara tindak lanjut atas hasil rapat Forum Lalu Lintas Provinsi Kalimantan Timur pada 26 Januari 2022 lalu di Balikpapan.

Dirlantas Polda Kaltim Kombes Pol. Sony Irawan menerangkan, metode audit yang digunakan oleh pihaknya adalah wawancara dengan bidang transportasi di perusahaan. Selanjutnya tim mengecek kondisi kendaraan operasional di perusahaan.

“Kami mengecek kondisi kendaraan yang digunakan. Baik itu dokumennya maupun fisik kendaraannya,” ucapnya.

Audit sistem manajemen keselamatan angkutan barang dianggap sebagai prioritas sebab turut sejalan dengan proyek strategis nasional yang tertuang dalam Perpres Nomor 109 tahun 2022. Menurut Sony, sebenarnya ada beberapa aspek yang menjadi perhatian utama dari audit ini.

“Proses rekrutmen pengemudi dan kompetensi pengemudi, proses regident (registrasi dan identifikasi, red) kendaraan, pengecekan fisik sesuai dokumen kendaraan, proses kesesuaian rancang bangun dan beban yang diijinkan sesuai KIR, sistem manajemen pemeliharaan kendaraan, checklist pra kegiatan safety riding dan lain-lain,” urainya.

Audit tersebut selanjutnya, kata Sony akan menghasilkan rekomendasi apakah kendaraan yang diperiksa layak beroperasi atau tidak. Rekomendasi ini kemudian diserahkan kepada kepala daerah untuk menentukan kebijakan mengenai operasional angkutan muatan barang di jalan.

“Jadi kendaraan-kendaraan yang ODOL (Over Dimension Over Loading, red) secara tidak langsung akan tersisih,” ungkapnya optimis.

Diakui pula, sejak awal audit digencarkan, banyak perusahaan angkutan transportasi muatan barang menormalisasi kendaraannya. Sony tak memungkiri apabila dalam kegiatan serupa sebelumnya, memang sempat ditemukan beberapa kendaraan angkutan yang tidak sesuai spesifikasi.

“Sebelumnya di salah satu perusahaan itu punya 25 unit, yang kami normalisasi simbolis ada dua unit. Kelebihan panjangnya sekitar 40 cm, lebarnya sekitar 5 sampai 10 cm. Nah ini kan wujud nyata, bahwa kegiatan ini mulai menumbuhkan kesadaran bagi perusahaan untuk menormalisasi kendaraannya,” timpalnya.

Tak hanya sampai di situ, beberapa perusahaan yang menjalani audit bahkan meminta adanya upaya peningkatan kemampuan dan kompetensi terhadap pengendaranya. Dia menganggap positif hal ini, terutama untuk mendukung upaya membangun sistem transportasi yang baik.

“Perlahan-lahan supaya sistem ini kita bangun hingga nantinya meliputi Provinsi Kaltim dan Ibu Kota Negara Nusantara,” tutupnya. (yor)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.