Krisis Petani: Milenial Gemar Selfie di Ladang Tapi Ogah Jadi Petani

Tun MZ

Anak-anak milenial berpose di ladang tanaman di Magelang, Jawa Tengah, untuk mengisi laman media sosial mereka. (Foto: VOA/Nurhadi)
Anak-anak milenial berpose di ladang tanaman di Magelang, Jawa Tengah, untuk mengisi laman media sosial mereka. (Foto: VOA/Nurhadi)

Magelang, helloborneo.com – Di tengah pandemi COVID-19, kawasan Sukomakmur di Kajoran, Magelang, Jawa Tengah, kian populer di kalangan anak muda. Kawasan pertanian sayur di kaki Gunung Sumbing ini memang menyuguhkan panorama menawan. Mayoritas pengunjungnya adalah generasi milenial yang ingin berbagi foto berlatar belakang ladang sayuran itu.

Dwiki Ainun Najib, anak muda setempat, melihat potensi berbisnis di tengah tren. Dia adalah satu dari beberapa fotografer amatir yang menawarkan jasa foto bagi anak-anak milenial itu.

“Kalau hari Minggu, rata-rata ya tujuh orang atau kelompok untuk foto. Kebanyakan sekarang sudah bawa kamera sendiri atau memakai HP,” kata Dwiki.

Dengan kamera Canon 60D, Dwiki memasang tarif hanya Rp2.000 untuk setiap foto yang dipilih. Pemakai jasanya boleh meminta foto sepuasnya, sebelum kemudian memilih yang dianggap cocok. Mereka kemudian memindahkan foto-foto itu melalui telepon pintar.

Sekelompok remaja meminta Dwiki memotret mereka di tengah hamparan tanaman daun bawang. Dwiki hafal betul, setiap gaya yang harus mereka peragakan dari satu jepretan ke jepretan selanjutnya.

“Kami datang dari Klaten,” kata mereka.

Keempat remaja itu menempuh perjalanan lebih dari 70 kilometer dengan sepeda motor hanya untuk berfoto. Padahal mereka juga tinggal di kawasan kaya area persawahan. Mereka tetap merasa perlu datang ke lokasi wisata ini untuk mengisi laman akun media sosial mereka dengan foto-foto berlatar belakang ladang tanaman sayuran.

Uniknya, meski dipenuhi anak muda, tidak ada satupun petani di kawasan wisata pertanian itu yang berusia di bawah 30 tahun.

Alifudin, salah satu petani di sana hanya tertawa ketika ditanya soal tidak adanya anak muda yang ikut menggarap lahan. Pria berumur 40an tahun itu ketika muda juga merantau bekerja di Yogyakarta. Dia baru pulang dan bertani, beberapa tahun terakhir.

“Memang agak susah karena juga tidak pasti setiap hari ada kerja di ladang,” kata Alifudin.

Indonesia Terancam Krisis Petani 

Generasi milenial memang memiliki ketertarikan yang rendah terhadap sektor pertanian. Menurut perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jika kondisi semacam ini terus berlangsung, Indonesia diprediksi akan kehabisan petani pada 2063.

Prediksi itu didasarkan pada data jangka panjang petani di Indonesia. Menurut Bappenas, pada 1976 proporsi pekerja yang bekerja sebagai petani, atau pekerja lain di sektor pertanian mencapai 65,8 persen. Angka tersebut menyusut menjadi 28 persen pada 2019.

Sementara itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah melakukan survei yang mendata rata-rata usia petani Indonesia saat ini adalah 52 tahun. Di sisi lain, hanya ada tiga persen generasi muda yang tertarik menjadi petani.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani Indonesia pada 2019 adalah 33,4 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 91 persen atau 30,4 juta petani, telah berusia di atas 40 tahun dan mayoritas ada di kisaran 50-60 tahun. Jumlah petani yang berusia di kisaran 20-39 tahun hanya delapan persen, atau sekitar 2,7 juta orang. Dalam jumlah petani muda yang sedikit itu, setiap tahun BPS mencatat mengalami penurunan.

Seluruh data itu saling mendukung yang menggambarkan bahwa semakin ke depan, jumlah petani di Indonesia akan semakin berkurang. Salah satu faktor utamanya adalah saat ini, generasi milenial tidak menggeluti sektor tersebut.

Petani Hindari Profesi Sejenis 

Di lahan persawahan atau ladang saat ini memang sulit menemukan petani berusia muda, apalagi dari kelompok milenial. Setidaknya itu dialami oleh Agus Subagyo, pegiat dari Omah Tani Yogyakarta yang melakukan pendampingan petani di daerah tersebut.

“Di sawah itu yang muda hanya Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), kalau mereka memang benar masih muda, karena mereka Sarjana Pertanian yang direkrut saat masih muda. Tetapi itu petugas negara. Tetapi kalau petaninya, memang benar-benar tua sudah tua,” kata Agus.

Salah satu faktor dominan yang membuat milenial menghindari profesi tani, justru karena desakan dari keluarga, jika orang tuanya adalah petani. Selama belasan tahun Omah Tani berkiprah di Yogyakarta, Agus menemukan fakta bahwa orang tua petani cenderung menyarankan anaknya untuk bekerja di sektor lain.

“Orang tua yang petani pasti melarang anaknya untuk bertani. Karena kisah di Indonesia ini yang namanya petani, baik dari sisi hulunya, bagaimana menanam, pupuk dan lahan, termasuk hilirnya enggak karuan,” tambahnya.

Larangan itu dinilai masuk akal karena profesi petani tidak ada kepastian. Agus mengatakan, ketika panen harga komoditas apapun mayoritas justru turun drastis. Perjuangan petani berbulan-bulan akhirnya berakhir dengan kerugian.

Pemerintah, kata Agus, sudah melakukan banyak hal kecuali dari sisi tata niaga. Sejak awal misalnya, ada bantuan benih bagi petani, pelatihan pengolahan lahan, subsidi pupuk dan lainnya. Namun semua berhenti disitu. Setelah panen, harga ditentukan pasar dan biasanya jatuh. Semua program subsidi pemerintah itu, tidak bermakna banyak.

Di lingkungan petani jagung di Gunungkidul yang dibina Omah Tani misalnya, petani memanen tanaman jagung ketika belum berbuah, dan menjualnya sebagai pakan ternak. Keputusan itu dinilai lebih memberi kepastian pendapatan karena hasilnya jelas. Sementara jika menunggu sampai panen, harga jagung justru tidak menentu.

“Kalau kondisi seperti ini, tidak mungkin anak muda mau jadi petani, dan orang tua yang sekarang jadi petani, akan melarang anaknya ikut jadi petani,” tambah Agus.

Menurut Agus, di samping seluruh program yang ada, kunci utamanya saat ini adalah memberikan kepastian harga hasil pertanian. Negara harus mau menetapkan harga beli komoditas dari petani. Sehingga petani tahu berapa harga cabai, padi, jagung atau ketela, sejak mereka memutuskan untuk menanam.

“Kalau ada uangnya. Kalau hasilnya bagus. Otomatis anak muda akan mau jadi petani. Tidak perlu program yang rumit-rumit,” imbuhnya.

Kementerian Pertanian Bergerak 

Kementerian Pertanian tentu saja tidak tinggal diam melihat kondisi ini. Dikutip dari keterangan resmi kementerian, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyinggung persoalan tersebut ketika memberikan kuliah umum di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, Kamis (3/3).

Mentan menilai generasi milenial punya peran besar untuk pembangunan pertanian dimasa depan.

“Pertanian adalah sebuah masa depan yang pasti dibutuhkan. Pertanian tidak hanya beras saja, tidak hanya jagung, tidak hanya singkong, pertanian tidak hanya kopi. Akan tetapi banyak turunan yang bisa di hasilkan dari satu komoditas. Kalo begitu pelajari itu,” kata Mentan Syahrul.

Mentan Syahrul menyebut, tiga bagi generasi muda dalam pembangunan pertanian. Ketiganya adalah frame academic intellectual atau ilmu pertanian, manajemen agenda untuk meningkatkan kapasitas dan menambah literasi, serta perilaku yang baik dan berkarakter

Frame academic intellectual tidak terbatas lagi, karena dunia terbuka dengan pertumbuhan teknologi dan informatika yang semakin canggih. Bahkan sekarang orang bisa belajar hanya melalui gadget-nya, jadi modal yang paling penting yang harus dimiliki, yakni kemauan dan semangatmu untuk maju,” ucap Syahrul

Syahrul meminta milenial Indonesia tidak kalah dengan petani mileneal dari Eropa dan Amerika di masa depan.

Kementerian Pertanian sendiri menggenjot upaya menarik minat milenial ke sektor ini melalui sejumlah upaya. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) misalnya, bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) telah membuka program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS). Ini adalah program bagi generasi muda untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan kemampuan di bidang pertanian.

Beberapa kegiatan dalam program YESS adalah Hibah Kompetitif dan Young Ambassadors. Hibah Kompetitif bertujuan menggerakkan pemuda tani membangun usaha pertanian dan perekonomian di pedesaan. Young Ambassadors adalah pemilihan dan pelatihan petani atau pengusaha muda sektor pertanian Indonesia untuk dapat menjadi Duta Program YESS.

Setiap wirausaha muda bidang pertanian berusia 17-35 tahun berkesempatan menjadi Young Ambassadors. Tugasnya adalah mempromosikan dunia pertanian untuk meningkatkan citra dan motivasi kaum muda agar terlibat dalam sektor ini, khususnya melalui media sosial, talk showroad show dan sejumlah publikasi lain. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.