Seniman Libya Restorasi Al-Quran Tua di tengah Ramadan

Tun MZ

Seorang pria tampak menyusun halaman Al-Quran menjadi satu dalam pelatihan restorasi Al-Quran lama di Tripoli, Libya, pada 22 Maret 2022. (Foto: AFP/Mahmud Turkia)
Seorang pria tampak menyusun halaman Al-Quran menjadi satu dalam pelatihan restorasi Al-Quran lama di Tripoli, Libya, pada 22 Maret 2022. (Foto: AFP/Mahmud Turkia)

Libya, helloborneo.com – Pada bulan suci Ramadan, banyak umat Muslim yang membaca Al-Quran untuk meningkatkan ibadah. Hal ini mendorong sekelompok relawan di Libya untuk bekerja siang malam guna memperbaiki Quran yang sudah tua atau rusak.

Khaled al-Drebi adalah seorang warga Libya yang terkenal terampil memperbaiki Quran. Ia dan beberapa artisan lain datang ke sebuah sanggar kerja di Tripoli setiap hari untuk merespons meningkatnya permintaan pelanggan Ramadan untuk memperbaiki Quran selama Ramadan.

“Pembelian Quran baru biasanya naik sebelum bulan Ramadan, tapi situasinya baru-baru ini berubah di Libya,” ujar Drebi.

Penyebabnya adalah kenaikan harga Quran, terutama “sejak negara berhenti mencetaknya” di Libya, tambahnya.

Negara Afrika Utara itu telah mengalami konflik selama lebih dari satu dekade, menyebabkan banyak institusinya berantakan dan merugikan perekonomian negara yang kaya minyak itu.

“Biaya untuk membeli Quran telah meningkat, akibatnya upaya perbaikan Quran lama jadi semakin populer,” jelas Drebi.

Harga Quran baru bisa mencapai $20 atau hampir Rp300.000. Tapi untuk memperbaiki Quran lama, hanya diperlukan beberapa dolar saja atau puluhan ribu rupiah.

Tapi biaya bukan faktor satu-satunya. Bagi banyak orang, Quran lama juga punya nilai sentimental.

“Ada kaitan spiritual bagi sebagian pelanggan,” kata Drebi. Ia menambahkan bahwa banyak pelanggannya memilih untuk melestarikan Quran yang diturunkan dari keluarga. “Ada yang bilang Quran ini baunya seperti kakek nenek atau orangtuanya.”

Di lokakarya itu, Abdel Razzaq al-Aroussi menyortir ribuan Quran berdasarkan tingkat kerusakan.

“Kalau kerusakannya hanya sedikit, restorasi memerlukan waktu tak lebih dari sejam, tapi kalau rusak berat, perlu dua jam atau lebih,” katanya.

Kitab suci itu “harus dilepas, direstorasi, lalu diikat/ditempel,” katanya — proses rumit yang sangat memerlukan “waktu dan konsentrasi” yang besar.

Mabrouk al-Amin, pengawas di sanggar kerja itu, mengatakan proses restorasi “memerlukan banyak seniman.”

“Mengerjakan buku Tuhan sangat menyenangkan dan kami tidak bosan… pekerjaan ini sangat membahagiakan,” ujarnya.

Para pengrajin ini mengatakan mereka telah memperbaiki setengah juta Quran sejak sanggar kerja itu dibuka pada 2008. Dan lebih dari 1.500 orang telah dilatih dari 150 pusat restorasi Quran. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.