Tanpa Emas di Kejurnas Angkat Besi, Imbas Tak Ada Dana Pembinaan

L Gustian

Para lifter Kalimantan Timur. (Ist)
Para lifter Kalimantan Timur. (Ist)

Samarinda, helloborneo.com – Menyandang predikat sebagai gudangnya lifter nasional, hasil yang diraih Kaltim di ajang Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2022, jauh dari julukan yang disematkan. Menurunkan 7 lifter juniornya, karena tanpa memperoleh sekeping pun emas.

Di ajang yang berlangsung 25-30 September 2022 di Jogjakarta, Kaltim harus puas dengan 12 perak dan 3 perunggu. Menggunakan sistem satu angkatan, satu medali, hanya dua lifter Benua Etam yang gagal naik di podium.

“Hasil ini jelas sebuah kemunduran bagi Kaltim,” ucap pelatih angkat besi Rendy R Ary.

Hal ini ia sampaikan karena melihat tak adanya lagi dukungan anggaran untuk mempersiapkan atlet-atletnya. Di mana keberangkatan kelima lifter ini murni dana mandiri yang berasal dari Ketua Pengprov PBSI Kaltim dan Pengkot PBSI Samarinda.

“Keikutsertaan kali ini memang penuh keterbatasan, bahkan atlet-atlet pun tanpa ada asupan suplemen,” keluhnya.
Rendy pun tak urung menyalahkan kondisi olahraga Kaltim saat ini. Tak adanya dukungan dari pemerintah menjadi salah satu penyebab kegagalan atlet-atletnya meraih hasil maksimal.
“Kita lihat saja ke depannya akan seperti apa prestasi olahraga Kaltim, jika kondisi ini dibiarkan,” ujarnya.

Meski tak berhasil meraih emas, apresiasi tinggi diberikan Rendy untuk para lifternya yang sudah berjuang maksimal demi mengharumkan nama daerah. Dua lifternya, Almira Aulia Azis dan Nathanael yang hanya meraih perak di kelasnya, hanya kalah 1 kilogram angkatan dari sang juara.

Selain itu, nasib apes juga sempat dialami lifter masa depan Kaltim, Almira, di saat gilirannya melakukan angkatan, tiba-tiba listrik di venue lomba padam, sehingga tak bisa menghitung angkatannya. Termasuk nasib dua lifter lainnya, yang digadang mampu meraih emas, justru harus rela mengalami penggabungan kelas.

“Firdha Khairunnisa yang dapat perunggu harusnya bermain di kelas 87 kg, digabung ke 71 plus. Termasuk Gaby di 102 kg, menjadi satu kelas gabungan 89 plus,” ujar Rendy.

Dengan melihat pencapaian ini, Rendy menyebut masih ada peluang untuk meningkatkan pencapaian atlet-atletnya. Namun tentu semua itu hanya bisa diraih dengan adanya sinergitas antara semua pihak terkait. (log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.