Badan Pangan Nasional Dorong Kegiatan Pasar Murah, Kendalikan Harga Beras

Pedagang beras di Kabupaten Paser. (Dok)

Jakarta, helloborneo.com – Pemantauan Badan Pangan Nasional pada bulan Oktober 2022 menunjukkan kenaikan harga komoditas beras premium dan medium yang cukup tinggi di sejumlah daerah di Indonesia. Harga Komoditas premium tertinggi terjadi di Papua Barat dan beras medium terjadi di Sumatera Barat.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa menyatakan berdasarkan pemantauan pihaknya hingga 28 Oktober 2022, komoditas pangan beras premium, beras medium, cabai rawit, daging ayam ras dan telur ayam ras memiliki kontribusi cukup tinggi terhadap inflasi.

Komoditas harga beras premium tingkat konsumen telah meningkat di atas 5 persen dari ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat,Papua dan Papua Barat. Harga beras premium di tingkat konsumen tertinggi terjadi di Papua Barat dengan harga Rp 15.980 per kilogram.

Sedangkan untuk harga beras medium di tingkat konsumen naik hingga diatas 20 persen dari HET terjadi di seluruh wilayah Papua, Papua Barat, Kalimantan dan Sumatera Barat. Harga beras medium ditingkat konsumen tertinggi terjadi di Sumatera Barat dengan harga Rp 13.530 per kilogram.

“Beberapa daerah terkait cabe rawit, Papua sangat tinggi sehingga ini perlu kita intervensi juga, kemudian Kaltara (Kalimantan Utara), Kalsel (Kalimantan Selatan) dan Maluku termasuk kuning yang juga mesti kita intervensi karena harganya sudah mencapai Rp 79 ribu per kilogram dan sebagainya, tertinggi Maluku Rp 88 ribu per kilogram, rata-rata nasional sudah Rp 90.200 per kilogram,” kata I Gusti Ketut Astawa, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah.

Badan Pangan Nasional mendorong agar Dinas Pangan di 34 provinsi di Indonesia untuk dapat memfasilitasi kegiatan pendistribusian pangan dari daerah surplus ke daerah yang defisit. Selain itu juga perlu dilaksanakan kegiatan pasar murah baik di daerah yang mengalami surplus maupun defisit pangan. Kedua intervensi itu diharapkan dapat mengendalikan kenaikan harga komoditas pangan dalam dua bulan ke depan utamanya mengantisipasi lonjakan harga jelang Natal dan Tahun Baru.

“Kami juga sudah meminta agar operasi pasar atau GPM (Gelar Pangan Murah) ini bisa direncanakan dalam dua bulan ini sehingga dalam menjelang nataru pun harga tidak melonjak. Kedua kegiatan ini bisa dikoordinasikan oleh provinsi dan kami minta dalam dua Minggu, provinsi sudah bisa menyampaikan perencanaan di masing-masing kabupaten/kota,” kata I Gusti Ketut Astawa.

Di bulan September 2022, komoditas beras menjadi kontributor tertinggi terhadap inflasi pangan nasional sebesar 4,0 persen. Tren peningkatan harga beras telah terjadi sejak bulan Juli 2022.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto mengungkapkan sampai dengan Minggu ke 4 Oktober, beras menjadi komoditas yang menyumbang kenaikan harga di 34 provinsi, selanjutnya minyak goreng di 31 provinsi dan gula pasir di 29 provinsi.

“Selebihnya tersebar pada berbagai komoditas pangan seperti bawang merah, ini ada 23 provinsi, daging sapi 18 provinsi, telur ayam ras, tepung terigu dan lain-lain,” jelas Setianto dalam kegiatan yang sama.

Kementan: Ketersediaan Pangan Strategis Cukup Aman Hingga Desember 2022

Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Retno Sri Hartati Mulyandari menjelaskan berdasarkan Prognosa Neraca Pangan Nasional Januari hingga Desember 2022 dapat dipastikan ketersediaan pangan strategis dari produksi dalam negeri cukup aman hingga akhir tahun 2022, namun untuk komoditas kedelai, bawang putih, daging sapi/kerbau, dan gula konsumsi masih harus dipenuhi dari impor.

“Untuk kedelai ini masih cukup rawan karena neracanya masih di posisi –kurang- 2,4 juta –ton-. Nah inilah pekerjaan rumah kita bersama. Juga bawang putih. Bawang putih ini juga di posisi masih kurang di neracanya 462.679 –ton,” kata Retno.

Menurut Retno, produksi beras di tahun 2022 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan sekitar 32.07 juta ton, mengalami peningkatan sebanyak 718.03 ribu ton atau 2,29 persen dibandingkan produksi beras di 2021 yang sebesar 31.36 juta ton. (voa/log)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.